Skip to main content

Menghormati Harkat Manusia Melalui Ruang Trotoar di Kota Kita

Betapa malang nasib trotoarian atau pejalan kaki di Indonesia. Sudah jatuh sering tertimpa tangga pula. Coba tengok trotoar yang ada di kotamu, bagaimana kah kondisinya? Trotoar kita umumnya sempit dengan kondisi yang sudah rusak mengelupas atau berlubang-lubang. Beberapa trotoar mungkin kita jumpai lebih baik keadaannya, tapi apa yang terjadi? Trotoar jadi jalur pengguna sepeda motor yang ingin memotong jalan karena macet atau malah jadi tempat parkir. Ngehe banget kan?


Via aktual.com


Barangkali banyak dari kita yang nggak acuh sama persoalan ini karena kita nggak banyak merasakan pengalaman berjalan di trotoar. Bisa jadi karena kita punya kendaraan sendiri yang nyaman dengan AC atau supir yang siap mengantar kita ke mana saja. Tetapi bagi mereka yang sehari-harinya naik kendaraan umum, maka derita pejalan kaki adalah makanan sehari-hari.


Pejalan kaki adalah kaum marjinal dengan kendaraan yang meraja-lela di jalanan. Orang kerap dengan mudahnya terserempet kendaraan meski sudah berhati-hati. Belum lagi kalau gelap, pejalan kaki rawan terkena garong jika di daerahnya gelap minim penerangan. Atau ada juga pejalan kaki yang terjeblos lubang saluran yang nggak ada tutupnya karena lagi banjir, sehingga nggak keliatan mana yang jalan mana yang lubang. Derita banget kan?

via kompas.com


Di luar negeri, yang terjadi adalah sebaliknya. Pejalan kaki adalah raja dan diutamakan. Nggak ada ceritanya orang lagi enak-enaknya jalan diserempet mobil mabok seperti tragedi Tugu Tani Jakarta beberapa tahun yang lalu. Dan di sana, jika orang menyeberang jalan, mobil akan berhenti untuk mengalah. Kalau kamu nggak percaya coba kamu nonton film dorama Jepang atau kota-kota di barat seperti Amerika atau Eropa. Trotoar di sana umumnya berukuran lebar, rapi, bersih dan nyaman. Orang-orang berjalan dengan teratur dan nggak ada satupun pengendara motor ngehe yang nyelonong masuk ke trotoar. Yup, di sana disadari betul bahwa kota memang dibuat untuk manusia, bukan kendaraan. Jadi ruang yang disediakan untuk pejalan kaki sangat luas daripada kendaraan.



Di luar negeri juga ada pedagang kaki lima lho, nggak hanya di sini aja. Tetapi bedanya, di sana, street vendor mau diatur dan nggak semena-mena memakai ruang publik untuk berdagang. Bahkan kios-kios di jalan Orchard disediakan sebagai furniture jalan yang menarik untuk melayani pejalan kaki.

Via depositphotos.com


Seorang penulis Amerika, Jane Jacobs, menulis dalam bukunya The Death and Life of American Great Cities, bahwa kualitas kota dilihat dari kualitas jalannya. Kalau kualitas jalannya jelek, berdebu dan lengang oleh pejalan kaki, maka kota tersebut ya dianggap jelek. Sebaliknya, jika jalan di kota itu bagus, bersih dan ramai oleh pejalan kaki, maka artinya kota tersebut bagus. Jane juga berkata bahwa sejatinya pembentuk kehidupan kota sesungguhnya ya manusia. Jika ruang kota udah nggak memanusiakan manusia, maka bagaimana bisa kota tersebut bertahan di masa mendatang?
Kualitas pembangunan dan kehidupan urban bukan dilihat dari tinggi dan banyaknya gedung pencakar langit. Bukan juga dilihat dari berapa banyaknya jumlah shopping mall, hotel, dan gaya hidup “wah” yang dipamerkan bak etalase mimpi. Kualitas kehidupan urban dilihat apa yang ada di jalan, apakah pejalan kaki dapat berjalan dengan nyaman dan nyaman, apakah pedagang kaki lima bisa berdagang dengan tertib, banyakkah kriminalitas yang terjadi di sana dan sebagainya.

Via manhattan.com


Ruang trotoar sejatinya adalah ruang manusia untuk hidup dan bergerak setiap harinya. Ruang trotoar adalah hak dasar untuk publik, seperti kata Jurgen Habermas, ruang publik membentuk rasionalitas. Dari ruang publik muncul apa yang dinamakan demokrasi, karena pada ruang publik semua orang menjadi setara, tidak dibedakan derajatnya apakah pejabat maupun rakyat biasa. Karenanya sudah selayaknya para pejalan kaki dihargai keberadaannya dengan mengembalikan ruang trotoar kepada pengguna yang sesungguhnya. Menghargai pejalan kaki berarti menghargai harkat manusia karena sesungguhnya merekalah kelas tertinggi yang berhak atas ruang-ruang kota kita.


Comments

Popular posts from this blog

Road to Pregnancy: Program Inseminasi Buatan

Sebelumnya saya sudah menulis pengalaman program hamil ke dokter kandungan (dr. Rudi Harsono, SPOG), dan belum berhasil. Setelah mencari informasi lebih dalam, akhirnya saya dan suami memutuskan pergi ke Dr. Hendy Hendarto, SPOG, (K) Fer. Beliau adalah salah satu dokter kandungan ahli fertilitas yang juga praktik di Klinik Fertilitas Graha Amerta Surabaya. Ketika kami konsultasi, kami menceritakan semua riwayat pemeriksaan yang telah kami lakukan, termasuk riwayat masalah infeksi di dekat mulut rahim yang terjadi pada saya dan terapi obat yang dilakukan dokter kandungan sebelumnya.

10 Hal Serunya Jadi Cewek Tomboy

Hai readers, tahukah kamu kalau nggak semua cewek itu sama? Yup, cewek selalu identik dengan dandanan yang feminim, unyu dan imut, sikap yang malu-malu, kemayu, centil dan sebagainya. Apalagi trend girlband lagi nge-hits banget sekarang ini dengan gaya cewek-ceweknya yang unyu dan manis, sudah pasti orang-orang, terutama kaum cowok, akan menilai cewek dengan standar tersebut. Tetapi buat kamu cewek-cewek yang nggak punya style unyu dan manis a la cewek-cewek girlband, nggak usah keburu sedih dulu girls. Jadi cewek tomboy juga nggak ada ruginya kok, malah banyak keuntungannya. Coba deh simak tulisan di bawah ini.
1.Lebih bebas Banyak cowok bilang, cewek itu ribet banget. Butuh banyak waktu buat dandan, matching in warna baju dengan make-up, mesti jaga penampilan dan kebersihan, dan sebagainya. Hal-hal kecil yang nggak jadi soal buat cowok merupakan persoalan besar buat cewek. Tapi itu nggak jadi masalah buat cewek tomboy, karena umumnya cewek tomboy nggak terlalu peduli bahkan cuek abi…

Walau Bukan Tempat Wisata Sungguhan, 5 Pecinan Ini Layak Kamu Kunjungi

Pecinan, atau chinatown, adalah permukiman yang dihuni oleh etnis Tionghoa, di manapun mereka berada. Menurut sejarah, masyarakat Tionghoa adalah komunitas diaspora yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena mereka berani meninggalkan tanah kelahiran di dataran Tiongkok demi menemukan hidup baru ke seluruh penjuru dunia dengan jalan berdagang. Makanya jangan heran, sebab kamu bakal menemukan pecinan di kota-kota, baik Indonesia maupun di negara lainnya, bahkan Eropa hingga Amerika. Ada sesuatu yang khas yang bisa kamu dapati jika kamu berkunjung ke Pecinan, yakni arsitektur dan suasana kehidupannya yang unik. Di Indonesia ada banyak pecinan. Nah, pecinan mana saja yang layak kamu kunjungi? Simak artikel berikut ini.
1.Pecinan Semarang Di pecinan Semarang ini, kamu bisa menemukan 11 klenteng, di antaranya Klenteng Sam Poo Kong yang terkenal itu. Sam Poo Kong sudah datang ke pesisir Semarang pada abad ke 15 dan kemudian mendirikan klenteng sebagai pusat kosmos perkampungan yang terbentuk k…