Skip to main content

Jangan Takut Jadi Ibu Rumah Tangga

via: factretriever.com

Perempuan jaman sekarang emang beda. Mereka nggak lagi dibatasi ruang geraknya, baik dalam pendidikan maupun karir. Perempuan kini nggak harus menjalani masa pingitan seperti jaman nenek moyang dahulu, dan juga nggak terbatas cuma bergerak di seputar sumur, dapur, dan kasur aja.
Kesetaraan perempuan di mata hukum kini menjadikan mereka memiliki kedudukan yang sama serta dapat menikmati hak pendidikan maupun bekerja. Sehingga kaum perempuan kini mampu mengimbangi peran laki-laki di masyarakat. Adanya akses pendidikan yang baik mendorong seorang perempuan untuk memiliki cita-cita yang tinggi sehingga banyak banget bisa kita temukan perempuan yang sukses berkarir dan bahkan menduduki jabatan penting di lembaga kenegaraan.

Namun ternyata nggak semua perempuan memiliki kesempatan berkarir yang oke lho, meskipun mereka mampu menempuh pendidikan tinggi hingga master bahkan doktor.
Soalnya ini nggak lepas dari kodrat perempuan untuk menjadi istri dan ibu, di mana perempuan melahirkan, memiliki anak dan mengasuhnya hingga anak-anak mereka mandiri. Peran sebagai istri dan ibu dipandang sebagai kewajiban yang nggak bisa ditinggalkan. Tentu saja hal ini menjadi dilema bagi perempuan yang di satu sisi ingin mengejar cita-cita setelah mendapat gelar sarjana, namun di sisi lain kewajiban sebagai istri dan ibu sangat menyita waktu dan nggak bisa ditinggal.

Mungkin kamu mengalami ini, yaitu ketika keputusanmu akhirnya adalah menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.
Kamu kuliah di kampus ternama dan fakultas yang oke punya, lulus dengan IPK juara, dan setelah wisuda berbagai tawaran kerja datang padamu. Masa depanmu yang cerah ada di depan mata. Namun siapa mengira beberapa bulan setelah wisuda, pria impianmu datang melamarmu. Kamu nggak mungkin menolaknya, karena kapan lagi berkesempatan untuk hidup bersama dengan orang yang kamu cintai. Ijab qabul pun diucapkan, resepsi pernikahan dilangsungkan, kalian bak raja dan ratu menikmati mahligai impian untuk menjalani kehidupan bahagia bersama.
Namun kamu menemui kenyataan selanjutnya bahwa setelah melahirkan anak pertama, kamu merasa kerepotan untuk mengurus suami, anak dan rumah sekaligus berkarir. Kerepotan berlanjut dengan lahirnya anak kedua yang semakin membuat keluarga adalah sentral kehidupanmu. Hingga pada akhirnya tibalah kamu mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaan dan hidup sebagai ibu rumah tangga sepenuhnya.

“Ih sayang lho! padahal kamu lulus cum laude, tapi ujung-ujungnya jadi IRT aja.”
“Apa gunanya itu ijazah dan gelar dari PTN ternama, kalau akhir-akhirnya ngurus dapur sama kasur aja?”
“Kasihan deh kalau pinter-pinter, tapi akhirnya cuma tergantung sama suami.”

Komentar nyinyir dari kanan-kiri pun berdatangan. Kamu jadi frustasi akhirnya karena nggak sanggup mengerem kata-kata yang keluar dari mulut orang. Rasa frustasi itu semakin bertambah ketika komentar nyinyir versi lainnya menggaung di telingamu.

“Kalau bela-belain karir apa nggak kasihan sama suami dan anak? Menjadi ibu itu kan udah kodratnya perempuan. Ya jangan menyalahi kodrat dong!”
“Nanti kalau kerja dan punya duit sendiri, bisa-bisa istri jadi ngelunjak sama suami.”

Semuanya adalah soal pilihan hidup aja, maka berhentilah memikirkan kata-kata orang.
Tulisan ini dibuat bukan untuk memprovokasi perempuan untuk menjadi ibu rumah tangga lho, tetapi untuk mendorong perempuan untuk berani terhadap resiko yang sudah dipilihnya. Sebenarnya mau menjadi ibu rumah tangga atau menjadi wanita karir sekaligus seorang ibu itu nggak jadi soal. Yang penting kamu bisa mengaturnya dan membicarakan hal ini baik-baik bersama suami. Setiap pilihan itu ada resikonya masing-masing, makanya kamu harus tegas terhadap keputusanmu sendiri. Kalau mengenai kata orang, itu mah nggak akan ada habisnya. Ini kan hidup kamu, bukan hidup mereka. Jadi cuek aja.
Bagi kamu yang meragukan keputusanmu untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya karena merasa sayang dengan gelar dan ijazahmu yang superman itu, kamu harus tahu bahwa menjadi ibu rumah tangga itu juga nggak gampang. Menjadi ibu rumah tangga itu bisa 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, tanpa cuti, tunjangan dan bonus kecuali suami baik hati. Kamu mesti perhatian sepenuhnya terhadap apa yang terjadi di rumah seperti kebersihan dan higienisnya barang-barang yang digunakan anak-anakmu. Kamu nggak mau dong mereka sakit diare karena barang-barang di sekitar mereka kotor. Kamu juga mesti perhatian dengan keamanan serta keselamatan rumah, jangan sampai anakmu tiba-tiba nyelonong main di jalan. Kalau diserempet ojek lewat gimana?
Nggak jarang kamu juga bagaikan guru bagi mereka, mengajari hal-hal pertama yang mereka ketahui, menjawab- pertanyaan-pertanyaan mereka yang seringnya lugu tapi memusingkan orang dewasa. Kamu juga ibarat dokter yang memberi pertolongan pertama bagi anak-anakmu jika mereka mendadak jatuh sakit. Coba kamu bayangkan jika kerepotan tersebut ditangani oleh seorang perempuan yang nggak berkecerdasan? Merawat dan mendidik anak-anak itu bukan perkara sepele, karena ini anak manusia lho, bukan main barbie-barbiean. Kamu bertanggung jawab dalam menyiapkan mereka untuk kehidupan masa depan sebagai seorang manusia dengan menjaga mereka sejak dalam masa tumbuh kembang anak-anak.

Ibu rumah tangga itu justru harus cerdas dan berpendidikan baik. bukan hanya demi anak-anak mereka tetapi juga demi suami sebagai pendamping hidupnya.
Tentu ada alasan mengapa pria istimewa ini memilihmu sebagai pendamping hidupnya. Bukan Cuma soal cantik, molek, ayu, tetapi juga soal kepribadian baik yang dihasilkan dari pendidikan yang baik pula. Seorang pria yang tangguh dan berjuang demi keluarganya, membutuhkan wanita yang cerdas dan apik pemikirannya sebagai pendamping hidup. Kalau wanita yang dipilihnya hanya cantik di luar tetapi telmi dan nggak mau susah mikir dan repot dengan urusan anak dan suami ya buat apa? Justru malah bikin puyeng kepala suami yang kesehariannya udah capek dengan urusan pekerjaan.
Keluarga adalah satuan terkecil dari masyarakat. Maka, membina keluarga yang baik sama dengan kita berperan dalam mewujudkan masyarakat yang baik pula. Jika hanya ada satu keluarga dalam masyarakat berpikir begini mungkin nggak akan terlihat istimewanya, namun bayangkan jika lima, sepuluh, dua puluh keluarga dalam masyarakat berpikir seperti ini, atau bahkan jika semua keluarga punya konsep ini, bukankah ini akan membawa dampak bagus di masyarakat?
Itulah makanya kamu nggak perlu minder dengan keputusanmu menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya jika memang situasi menuntut demikian. Bukan hanya karir yang menuntut pendidikan baik, menjadi ibu rumah tangga yang menyiapkan calon-calon manusia tentu harus berpendidikan baik pula. Percayalah nggak ada yang sia-sia dengan pendidikan tinggi yang kamu raih. Ibu rumah tangga adalah profesi mulia, maka sebaiknya kamu berbangga hati mengemban amanah ini.

Kelak jika anak-anakmu dewasa, tentu mereka akan bangga memiliki ibu seperti kamu yang telah mengabdikan dirinya untuk keluarga dengan sepenuh hati. 

Comments

Popular posts from this blog

Yuk Pakai Batik Rame-rame. Ini Nih Alasannya!

Batik memang busana istimewa bagi orang Indonesia. Barangkali nggak teramat istimewa buat kamu karena sudah terbiasa, apalagi batik sekarang udah menjadi dresscode tersendiri baik di tempat kerja, pesta, bahkan acara kasual sekalipun. Tapi kalau kamu memakai busana batik di luar negeri, wow! Sensasinya terasa beda. Selain punya corak khas lokal yang unik, batik juga menjadi identitas bagimu sebagai orang Indonesia di dunia luar sana. Soalnya emang nggak ada yang nyamain sih. Berapa koleksi yang kamu miliki di lemari bajumu? Sepotong atau dua potong? Wah, kalau cuma segitu aja, kamu harus menambah koleksi baju batikmu nih. Soalnya banyak alasan kenapa kamu harus bangga dan demen mengenakan batik di manapun. Ini dia ulasan singkatnya.
1.Batik udah menjangkau semua kalangan masyarakat dan bukan lagi sebagai produk yang eksklusif. Dulu, pemakai kain batik benar-benar kalangan terbatas aja. Yoi, itu adalah ketika batik masih diproduksi secara tradisional, alias masih menggunakan canting. M…

Walau Bukan Tempat Wisata Sungguhan, 5 Pecinan Ini Layak Kamu Kunjungi

Pecinan, atau chinatown, adalah permukiman yang dihuni oleh etnis Tionghoa, di manapun mereka berada. Menurut sejarah, masyarakat Tionghoa adalah komunitas diaspora yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena mereka berani meninggalkan tanah kelahiran di dataran Tiongkok demi menemukan hidup baru ke seluruh penjuru dunia dengan jalan berdagang. Makanya jangan heran, sebab kamu bakal menemukan pecinan di kota-kota, baik Indonesia maupun di negara lainnya, bahkan Eropa hingga Amerika. Ada sesuatu yang khas yang bisa kamu dapati jika kamu berkunjung ke Pecinan, yakni arsitektur dan suasana kehidupannya yang unik. Di Indonesia ada banyak pecinan. Nah, pecinan mana saja yang layak kamu kunjungi? Simak artikel berikut ini.
1.Pecinan Semarang Di pecinan Semarang ini, kamu bisa menemukan 11 klenteng, di antaranya Klenteng Sam Poo Kong yang terkenal itu. Sam Poo Kong sudah datang ke pesisir Semarang pada abad ke 15 dan kemudian mendirikan klenteng sebagai pusat kosmos perkampungan yang terbentuk k…

Buat Kamu yang Gemar Berlomba, Tips Memenangkan Kompetisi atau Sayembara

Hidup jangan habis hanya untuk dipakai kerja, belajar, main, bergaul dan sebagainya yang udah kelewat biasa-biasa aja. Sesekali menguji kemampuan diri melalui ajang kompetisi atau sayembara nggak ada salahnya kan. Ada banyak ajang kompetisi yang dibuat untuk berbagai bidang. Sebutlah film, karya tulis, desain produk, arsitektur, penataan kota, musik, dan macam-macam lagi yang bisa kamu ikuti sesuai bidang dan keahlian yang kamu miliki. Selain menambah pengalaman, ajang kompetisi juga bisa menambah portofolio karyamu lho. Apalagi kalau kamu berhasil memenangkannya, selain dapat hadiah, prestasi ini akan menjadi momen berharga dalam hidupmu. Siapa sih yang nggak bangga kalau jadi juara kompetisi tingkat nasional, atau bahkan, tingkat internasional?