Skip to main content

Nggak Ada Cewek yang Mau Jadi Korban Pelecehan, Jadi Berhenti Menyalahkan Mereka

Via annida online


Society teachs: “don’t get raped” not “don’t rape”

Tulisan ini dibuat karena banyaknya bias yang ada di masyarakat tentang pelecehan seksual yang dialami oleh kaum perempuan. Maraknya kasus pelecehan disinyalir karena semakin banyaknya perempuan yang tidak mau menutupi tubuhnya atau menjaga dirinya dengan baik. Menutupi tubuh dengan baik memang keharusan moral, karena bagaimana cara kita berpakaian adalah cerminan bagaimana kita ingin dihargai oleh orang lain. Namun bukan berarti perempuan yang tidak mampu berbuat demikian pantas dilecehkan. Terlebih lagi nggak semua korban pelecehan adalah mereka yang gemar berbaju mini. Jadi sebenarnya siapa yang patut disalahkan? Korban pelecehan atau pelakunya?

1.       Bagaimana pun perempuan berpakaian, itu tidak bisa dijadikan pembenaran atas pelecehan yang menimpanya
Salahnya sendiri pakai baju mini. Diperkosa deh.
Sudah jadi korban, disalahkan pula. Memang enak? Meskipun berpakaian baik bagi perempuan merupakan kesadaran moral yang perlu dijaga, namun di sisi lain pria juga punya kewajiban menjaga pandangannya. Kesadaran harus ada dari dua belah pihak. Adanya penyalahan terhadap kaum perempuan saja menunjukkan diskriminasi dan dominasi gender oleh kaum pria yang seolah memiliki pembenaran atas kejahatan yang mereka lakukan. Jelas bahwa ini adalah ketidakadilan karena perempuan seakan tidak punya hak atas rasa aman dari kejahatan yang muncul dari benak pria.

Via rockingmama.id

2.       Sering pulang malam bukan pertanda bahwa perempuan boleh dilecehkan
Stereotip bahwa perempuan yang pulang larut malam adalah perempuan nakal tidak sepenuhnya terbukti. Ada saja perempuan yang memang punya shift kerja malam atau terpaksa pulang larut karena harus lembur bekerja. Perempuan yang sering pulang malam bukan lantas mengumpankan dirinya kepada pria-pria jahat. Sehingga tidak layak jika mereka menjadi korban pelecehan.

3.       Seks yang dilakukan karena pelecehan hanya membawa trauma bagi perempuan, bukan kesenangan atau kenikmatan
Pelaku seringkali berdalih bahwa korban pelecehan melakukan aktifitas seksual atas dasar “suka sama suka”. Hal ini muncul karena nampaknya korban pelecehan menikmati apa yang dilakukan oleh pelaku.
Menjadi korban pelecehan oleh pria adalah hal yang sangat menakutkan bagi perempuan sehingga ia akan mencoba bertahan mati-matian. Namun kebanyakan kalah tenaga dengan pelaku sehingga pelecehan tersebut terjadi juga. Namun bukan lantas korban “menikmati” apa yang terjadi padanya, justru pengalaman tersebut akan membekas berupa trauma. Jika korban nampaknya “menikmati” itu hanyalah reaksi fisiologis saja, seperti kita menangis saat mengiris bawang atau berteriak ketika terjepit pintu.

4.       Korban disalahkan karena tidak memberi perlawanan maksimal
Perempuan biasanya punya tenaga yang lebih lemah daripada laki-laki, itulah sebabnya korban akhirnya kalah ketika mencoba melawan atau bertahan. Namun, begitu mengerikannya pelecehan seksual, seringkali korban seolah-olah lumpuh karena ketakutan atau sengaja diam dengan harapan pelaku akan pergi.
Namun, modus pelecehan kini berkembang banyak. Ada pelaku yang juga memberikan ancaman psikis kepada korban jika ia menolak untuk melakukan kegiatan seks dengan pelaku. Ujung-ujungnya yang terjadi tetap sama, dominasi pria yang dirupakan dalam bentuk kekerasan seksual, baik itu fisik maupun psikologis.

5.       Pelaku pelecehan seksual sangat mungkin dilakukan oleh orang terdekat
Banyak kasus pelecehan yang pelakunya adalah ayah korban, paman, kakek, kakak, saudara tiri, tetangga, teman, pacar, guru dan lain-lain. Fakta ini menunjukkan bahwa pelecehan timbul karena keinginan pelaku, bukan serta merta perilaku korban yang mengundang kejahatan. Apa iya seorang anak sengaja memancing-mancing anggota keluarganya sendiri untuk melecehkan dirinya?

6.       Faktanya, korban pelecehan nggak cuma perempuan, tetapi siapa saja
Pelaku kejahatan seksual adalah mereka yang punya kelainan sehingga tidak mampu meregulasi emosi maupun hawa nafsunya. Bukankah sering kita dengar bahwa makin banyak korban kejahatan seksual adalah anak-anak baik laki-laki maupun perempuan. Korban pelecehan umumnya adalah mereka yang dianggap lemah dan tidak bisa mempertahankan diri seperti perempuan dan anak-anak. Perempuan memang gender yang selalu “kalah” di Indonesia, dan laki-laki adalah pihak yang “di atas angin”, sehingga perempuanlah yang kerap menjadi korban pelecehan.

7.       Pelaku tetaplah pihak yang bersalah di mata hukum
Hukum lebih bersifat objektif dan adil dibandingkan dengan sanksi sosial. Bagaimanapun, hukum selalu memutuskan pelaku adalah yang bersalah selama bukti menunjukkan bahwa pelaku tersebut memang yang melakukannya.

Mulai dari sekarang, baiknya kita menanamkan kesadaran bahwa menjaga agar tidak terjadi kasus pelecehan adalah tanggung jawab bersama. Tidak hanya mengurangi potensi menjadi korban, tetapi juga potensi menjadi pelaku. Berhentilah memberikan stigma kepada korban pelecehan karena apa yang mereka alami sudah sangat berat bagi mereka.

Comments

Popular posts from this blog

Yuk Pakai Batik Rame-rame. Ini Nih Alasannya!

Batik memang busana istimewa bagi orang Indonesia. Barangkali nggak teramat istimewa buat kamu karena sudah terbiasa, apalagi batik sekarang udah menjadi dresscode tersendiri baik di tempat kerja, pesta, bahkan acara kasual sekalipun. Tapi kalau kamu memakai busana batik di luar negeri, wow! Sensasinya terasa beda. Selain punya corak khas lokal yang unik, batik juga menjadi identitas bagimu sebagai orang Indonesia di dunia luar sana. Soalnya emang nggak ada yang nyamain sih. Berapa koleksi yang kamu miliki di lemari bajumu? Sepotong atau dua potong? Wah, kalau cuma segitu aja, kamu harus menambah koleksi baju batikmu nih. Soalnya banyak alasan kenapa kamu harus bangga dan demen mengenakan batik di manapun. Ini dia ulasan singkatnya.
1.Batik udah menjangkau semua kalangan masyarakat dan bukan lagi sebagai produk yang eksklusif. Dulu, pemakai kain batik benar-benar kalangan terbatas aja. Yoi, itu adalah ketika batik masih diproduksi secara tradisional, alias masih menggunakan canting. M…

Walau Bukan Tempat Wisata Sungguhan, 5 Pecinan Ini Layak Kamu Kunjungi

Pecinan, atau chinatown, adalah permukiman yang dihuni oleh etnis Tionghoa, di manapun mereka berada. Menurut sejarah, masyarakat Tionghoa adalah komunitas diaspora yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena mereka berani meninggalkan tanah kelahiran di dataran Tiongkok demi menemukan hidup baru ke seluruh penjuru dunia dengan jalan berdagang. Makanya jangan heran, sebab kamu bakal menemukan pecinan di kota-kota, baik Indonesia maupun di negara lainnya, bahkan Eropa hingga Amerika. Ada sesuatu yang khas yang bisa kamu dapati jika kamu berkunjung ke Pecinan, yakni arsitektur dan suasana kehidupannya yang unik. Di Indonesia ada banyak pecinan. Nah, pecinan mana saja yang layak kamu kunjungi? Simak artikel berikut ini.
1.Pecinan Semarang Di pecinan Semarang ini, kamu bisa menemukan 11 klenteng, di antaranya Klenteng Sam Poo Kong yang terkenal itu. Sam Poo Kong sudah datang ke pesisir Semarang pada abad ke 15 dan kemudian mendirikan klenteng sebagai pusat kosmos perkampungan yang terbentuk k…

Buat Kamu yang Gemar Berlomba, Tips Memenangkan Kompetisi atau Sayembara

Hidup jangan habis hanya untuk dipakai kerja, belajar, main, bergaul dan sebagainya yang udah kelewat biasa-biasa aja. Sesekali menguji kemampuan diri melalui ajang kompetisi atau sayembara nggak ada salahnya kan. Ada banyak ajang kompetisi yang dibuat untuk berbagai bidang. Sebutlah film, karya tulis, desain produk, arsitektur, penataan kota, musik, dan macam-macam lagi yang bisa kamu ikuti sesuai bidang dan keahlian yang kamu miliki. Selain menambah pengalaman, ajang kompetisi juga bisa menambah portofolio karyamu lho. Apalagi kalau kamu berhasil memenangkannya, selain dapat hadiah, prestasi ini akan menjadi momen berharga dalam hidupmu. Siapa sih yang nggak bangga kalau jadi juara kompetisi tingkat nasional, atau bahkan, tingkat internasional?