Skip to main content

Produktif versus Gila Bekerja. Yang Manakah Dirimu?

Via ipqi.org


Bekerja keras dan produktif sangat penting dalam menjalani tahapan karir. Tetapi gila bekerja? Get a life. Bukannya produktif, gila bekerja justru merupakan kelainan dan masalah yang harus kamu atasi. Hidupmu bukan hanya untuk pekerjaan, dan pekerjaan bukan satu-satunya hal yang harus kamu lakukan di dunia ini. Makanya, kamu harus dapat membedakan mana bekerja secara produktif dan mana bekerja yang termasuk dalam taraf gila. Coba simak artikel ini.

1.       Berorientasi jelas versus sekedar ingin sibuk
Orang yang produktif memiliki target yang jelas dalam bekerja. Berdasarkan target tersebut, mereka membuat strategi dan mampu mengukur berapa SDM yang dibutuhkan, waktu yang perlu dihabiskan, dan lain-lain untuk mencapai targetnya. Dengan kata lain, orang produktif mampu membuat proyeksi dalam rencananya, bahkan jika perlu, tidak perlu lembur. Kerja cerdas, bukan kerja keras.
Sementara itu, orang yang gila kerja belum tentu memiliki orientasi dalam pekerjaannya. Apa yang menjadi orientasi mereka adalah kesibukan itu sendiri. Mereka tidak mengukur, berapa waktu dan tenaga yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Sehingga seringkali waktu dan tenaga habis untuk detail-detail yang tidak perlu.

2.       Selalu tahu batas versus tidak pernah merasa cukup
Karena orang produktif tahu apa yang menjadi orientasi dan target pekerjaannya, mereka akan selalu tahu batas-batas di mana mereka bekerja. Kapan pekerjaan tersebut bisa dianggap selesai, apakah telah sesuai dengan keinginan pemberi tugas dan sebagainya. Dengan demikian mereka bisa mengatur waktu lainnya untuk pekerjaan lain yang sudah menunggu.
Sebaliknya, orang yang gila bekerja nggak akan pernah merasa cukup! Karena mereka nggak punya orientasi dalam pekerjaan, sehingga cenderung sibuk mengerjakan hal-hal kecil yang sebetulnya bukan hal krusial. Padahal belum tentu pemberi tugas atau klien mempersoalkan hal-hal kecil tersebut, tetapi mereka sungguh meributkannya.

Manage yang bener kerjaannya kak, biar nggak overtime melulu... - Via R10.net


3.       Memberi 100% pada waktu yang tepat versus menjanjikan 110% yang tak pernah terwujud
Orang produktif selalu tahu kapan saatnya mereka memacu kerja kerasnya pada suatu pekerjaan. Berdasarkan jadwal yang mereka buat, mereka tahu kapan saatnya harus lembur dan memusatkan perhatian pada pekerjaan itu. Setelah itu terlalui, orang produktif akan berpikir, oke ini selesai, lalu beralih pada hal lainnya atau beristirahat.
Orang yang gila bekerja selalu menginginkan semua pekerjaannya sempurna, tidak pedulu banyaknya waktu yang harus dihabiskan untuk melakukannya. Mereka berjanji akan mengerjakan seseuatu sesempurna mungkin, tetapi justru menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak begitu penting.

4.       Yakin pada diri sendiri versus khawatir dengan penilaian orang lain
Orang produktif memiliki kepercayaan diri dan keyakinan secara mandiri bahwa ia akan dapat menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik. Itulah sebabnya mereka bersifat determinan dan independen, tidak bergantung terhadap penilaian orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

10 Hal Serunya Jadi Cewek Tomboy

Hai readers, tahukah kamu kalau nggak semua cewek itu sama? Yup, cewek selalu identik dengan dandanan yang feminim, unyu dan imut, sikap yang malu-malu, kemayu, centil dan sebagainya. Apalagi trend girlband lagi nge-hits banget sekarang ini dengan gaya cewek-ceweknya yang unyu dan manis, sudah pasti orang-orang, terutama kaum cowok, akan menilai cewek dengan standar tersebut. Tetapi buat kamu cewek-cewek yang nggak punya style unyu dan manis a la cewek-cewek girlband, nggak usah keburu sedih dulu girls. Jadi cewek tomboy juga nggak ada ruginya kok, malah banyak keuntungannya. Coba deh simak tulisan di bawah ini.
1.Lebih bebas Banyak cowok bilang, cewek itu ribet banget. Butuh banyak waktu buat dandan, matching in warna baju dengan make-up, mesti jaga penampilan dan kebersihan, dan sebagainya. Hal-hal kecil yang nggak jadi soal buat cowok merupakan persoalan besar buat cewek. Tapi itu nggak jadi masalah buat cewek tomboy, karena umumnya cewek tomboy nggak terlalu peduli bahkan cuek abi…

Buat Kamu yang Gemar Berlomba, Tips Memenangkan Kompetisi atau Sayembara

Hidup jangan habis hanya untuk dipakai kerja, belajar, main, bergaul dan sebagainya yang udah kelewat biasa-biasa aja. Sesekali menguji kemampuan diri melalui ajang kompetisi atau sayembara nggak ada salahnya kan. Ada banyak ajang kompetisi yang dibuat untuk berbagai bidang. Sebutlah film, karya tulis, desain produk, arsitektur, penataan kota, musik, dan macam-macam lagi yang bisa kamu ikuti sesuai bidang dan keahlian yang kamu miliki. Selain menambah pengalaman, ajang kompetisi juga bisa menambah portofolio karyamu lho. Apalagi kalau kamu berhasil memenangkannya, selain dapat hadiah, prestasi ini akan menjadi momen berharga dalam hidupmu. Siapa sih yang nggak bangga kalau jadi juara kompetisi tingkat nasional, atau bahkan, tingkat internasional?

Walau Bukan Tempat Wisata Sungguhan, 5 Pecinan Ini Layak Kamu Kunjungi

Pecinan, atau chinatown, adalah permukiman yang dihuni oleh etnis Tionghoa, di manapun mereka berada. Menurut sejarah, masyarakat Tionghoa adalah komunitas diaspora yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena mereka berani meninggalkan tanah kelahiran di dataran Tiongkok demi menemukan hidup baru ke seluruh penjuru dunia dengan jalan berdagang. Makanya jangan heran, sebab kamu bakal menemukan pecinan di kota-kota, baik Indonesia maupun di negara lainnya, bahkan Eropa hingga Amerika. Ada sesuatu yang khas yang bisa kamu dapati jika kamu berkunjung ke Pecinan, yakni arsitektur dan suasana kehidupannya yang unik. Di Indonesia ada banyak pecinan. Nah, pecinan mana saja yang layak kamu kunjungi? Simak artikel berikut ini.
1.Pecinan Semarang Di pecinan Semarang ini, kamu bisa menemukan 11 klenteng, di antaranya Klenteng Sam Poo Kong yang terkenal itu. Sam Poo Kong sudah datang ke pesisir Semarang pada abad ke 15 dan kemudian mendirikan klenteng sebagai pusat kosmos perkampungan yang terbentuk k…