Skip to main content

Seorang Gadis Berkebutuhan Khusus Menjelaskan Mengapa Konsepsi “Normal” Adalah Sebuah Kekeliruan Besar

Via Twitter.com
"We won the lottery in life and life is such a beautiful, precious gift, and we have to savor it, because as far as we know, we are the only living things in the universe, so it is our duty to protect it." — Francesca Martinez

Fransesca Martinez, pengarang buku What The **** Is Normal? berbicara kepada publik tentang berbahayanya konsepsi “normal” yang selama ini ada di masyarakat. Fransesca adalah seorang gadis dengan celebral palsy yang tidak pernah menyebut dirinya sendiri “cacat” dan alih-alih begitu ia menyebut dirinya “goyah”.

“Menerima dirimu sendiri secara apa adanya adalah pemberontakan bagi masyarakat.” Kata Fransesca. Wow!

Kita kerap disuguhi oleh gambaran “kehidupan normal” oleh media, tentang standar atau keadaan yang seharusnya kita miliki. Mobil merk tertentu, pakaian model tertentu, badan langsing, kulit putih, rambut indah, rumah mewah, dan sebagainya. Jika kita nggak memiliki hal-hal tersebut, kita bokek, gendut, terlalu kurus, rumah seadanya, nggak punya mobil, nggak doyan nongkrong di Starbucks, seolah kita nggak akan layak disebut lazim dan diterima oleh lingkungan. Tetapi apakah hal itu benar-benar penting untuk dikejar?

“Normal” adalah label yang diberikan masyarakat jika kita memenuhi syarat-syarat kelaziman yang sesungguhnya hanya produk mental akibat didikan media atau pasar
Manusia sudah dari sananya diciptakan beragam. Kita bukan kue yang sengaja dicetak supaya kembar dengan kue-kue lainnya. Tetapi keadaan yang ada justru kita diperlakukan begitu oleh media atau pasar, hanya karena mereka punya tendensi tertentu. Padahal, semua manusia pada dasarnya unik satu sama lain dan punya bentuk kehidupan beragam pula. Jadi sebenarnya apa yang disebut “normal” itu sesungguhnya nggak ada. Yang ada hanyalah “normal” menurut siapa.
Normal doesn’t really exist!

Inilah yang disampaikan Fransesca. Sebagai penderita celebral palsy, ia menyandang predikat “abnormal” oleh masyarakat, hanya karena ia tidak bertingkah seperti orang kebanyakan. Predikat ini tentu saja menjadi beban bagi Fransesca, karena keadaannya selalu dianggap sebagai kecacatan dan dianggap tidak mampu mengikuti kehidupan orang normal. Fransesca lantas merasa frustasi, karena label tersebut mencegahnya untuk berpikir optimis bahkan merasa bersalah karena merepotkan orang lain. Fransesca kemudian berpikir bahwa, sebenarnya ia tidak pernah menemukan orang yang benar-benar “normal”, karena ia mengamati memang setiap orang memiliki perbedaan dan keunikan. Dan jika setiap perbedaan dianggap abnormal, yang berarti juga sesuatu yang salah, bagaimana kita bisa menemukan nilai dari diri kita sendiri?

Fransesca menjelaskan bahwa kenyataan yang kita temui saat ini sudah dibungkus oleh imajinasi media. Kita ditekan dan didorong untuk mengikuti keinginan mereka. Apa yang kita beli, kita pakai dan kenakan sehari-hari, semua adalah upaya kita untuk menuju standar fiktif yang dibentuk oleh media. Padahal belum tentu kehidupan kita benar-benar sesuai dengan standar yang dibungkus oleh media tersebut. Hasil dari keadaan yang nggak bisa kita paksakan menuruti standar fiktif tadi adalah kita menjadi frustasi dengan diri kita sendiri, menghabiskan banyak tenaga, waktu dan uang demi menjadi “normal”, demi bisa diterima oleh lingkungan yang sudah terlanjur dicuci otak oleh media.

Via Upworthy.com


Keinginan diterima lingkungan mendorong pola konsumsi kita menjadi berlebihan, di luar akal, bahkan kita mengabaikan nilai-nilai yang sesungguhnya lebih essensial
Pasar yang terus mendorong kita untuk mengkonsumsi lebih banyak akan membawa dampak semakin banyak pula limbah yang dihasilkan. Berapa banyak sampah elektronik yang bertambah setiap bulan setiap tahun dengan konsumsi gadget berlebihan, hanya karena kita penasaran ingin memilikinya. Berapa banyak beban polusi udara dan bahan bakar minyak terbuang karena melonjaknya pemakaian kendaraan bermotor hanya karena kita merasa punya kendaraan pribadi itu lebih gaya daripada naik transportasi umum. Berapa banyak sampah dan pencemaran dihasilkan hanya karena gaya hidup dan desakan untuk menjadi “normal” sesuai keinginan industri serta pasar?
Berapa banyak remaja yang depresi karena tidak diterima pergaulan, hanya karena dia gendut dan jerawatan. Berapa banyak anak frustasi hanya karena mereka nggak mampu untuk membeli gadget brand tertentu yang lagi ngehits saat itu. Berapa banyak lagi orang harus bertengkar dan bermusuhan hanya karena perbedaan pendapat?

Betapa waktu dan energi kita sia-sia hanya karena kita buta, bahwa segala hal harus sama dan seragam supaya kita bisa menerima satu sama lain. Siapa yang diuntungkan? Tidak ada!

Bukankah lebih bijak jika waktu dan energi kita digunakan untuk hal yang lebih produktif? Mengajar anak-anak yang ada di daerah terpencil, menjadi relawan di daerah bencana, atau membuka taman baca di kampung misalnya. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadikan diri kita lebih baik, juga dunia di sekitar kita.

To be a better us
Jika “normal” itu sebenarnya nggak sungguhan ada, tentu hilang beban kita untuk menyamakan standar untuk mudah diterima lingkungan sosial. Kita bisa menerima diri kita apa adanya, dan memberi diri sendiri kesempatan untuk berkembang, serta menjadi lebih baik lagi. Sebab, hanya keberagaman dan keunikan dari kita masing-masing lah yang akan menjadikan kita mampu bersinergi, demi masa depan dunia yang lebih baik.

Sumber
http://www.upworthy.com/a-woman-whos-wobbly-talks-about-why-the-idea-of-normal-is-actually-pretty-toxic?c=hpstream

Comments

Popular posts from this blog

Road to Pregnancy: Program Inseminasi Buatan

Sebelumnya saya sudah menulis pengalaman program hamil ke dokter kandungan (dr. Rudi Harsono, SPOG), dan belum berhasil. Setelah mencari informasi lebih dalam, akhirnya saya dan suami memutuskan pergi ke Dr. Hendy Hendarto, SPOG, (K) Fer. Beliau adalah salah satu dokter kandungan ahli fertilitas yang juga praktik di Klinik Fertilitas Graha Amerta Surabaya. Ketika kami konsultasi, kami menceritakan semua riwayat pemeriksaan yang telah kami lakukan, termasuk riwayat masalah infeksi di dekat mulut rahim yang terjadi pada saya dan terapi obat yang dilakukan dokter kandungan sebelumnya.

10 Hal Serunya Jadi Cewek Tomboy

Hai readers, tahukah kamu kalau nggak semua cewek itu sama? Yup, cewek selalu identik dengan dandanan yang feminim, unyu dan imut, sikap yang malu-malu, kemayu, centil dan sebagainya. Apalagi trend girlband lagi nge-hits banget sekarang ini dengan gaya cewek-ceweknya yang unyu dan manis, sudah pasti orang-orang, terutama kaum cowok, akan menilai cewek dengan standar tersebut. Tetapi buat kamu cewek-cewek yang nggak punya style unyu dan manis a la cewek-cewek girlband, nggak usah keburu sedih dulu girls. Jadi cewek tomboy juga nggak ada ruginya kok, malah banyak keuntungannya. Coba deh simak tulisan di bawah ini.
1.Lebih bebas Banyak cowok bilang, cewek itu ribet banget. Butuh banyak waktu buat dandan, matching in warna baju dengan make-up, mesti jaga penampilan dan kebersihan, dan sebagainya. Hal-hal kecil yang nggak jadi soal buat cowok merupakan persoalan besar buat cewek. Tapi itu nggak jadi masalah buat cewek tomboy, karena umumnya cewek tomboy nggak terlalu peduli bahkan cuek abi…

Walau Bukan Tempat Wisata Sungguhan, 5 Pecinan Ini Layak Kamu Kunjungi

Pecinan, atau chinatown, adalah permukiman yang dihuni oleh etnis Tionghoa, di manapun mereka berada. Menurut sejarah, masyarakat Tionghoa adalah komunitas diaspora yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena mereka berani meninggalkan tanah kelahiran di dataran Tiongkok demi menemukan hidup baru ke seluruh penjuru dunia dengan jalan berdagang. Makanya jangan heran, sebab kamu bakal menemukan pecinan di kota-kota, baik Indonesia maupun di negara lainnya, bahkan Eropa hingga Amerika. Ada sesuatu yang khas yang bisa kamu dapati jika kamu berkunjung ke Pecinan, yakni arsitektur dan suasana kehidupannya yang unik. Di Indonesia ada banyak pecinan. Nah, pecinan mana saja yang layak kamu kunjungi? Simak artikel berikut ini.
1.Pecinan Semarang Di pecinan Semarang ini, kamu bisa menemukan 11 klenteng, di antaranya Klenteng Sam Poo Kong yang terkenal itu. Sam Poo Kong sudah datang ke pesisir Semarang pada abad ke 15 dan kemudian mendirikan klenteng sebagai pusat kosmos perkampungan yang terbentuk k…