Skip to main content

Untuk Kamu yang Sedang Mati-matian Diet Kurus, Percayalah bahwa Kecantikan itu Sesungguhnya Adil

Via alodokter.com

Tuhan itu Maha Adil, teman. Betapa adilnya Tuhan, sampai-sampai nggak ada satupun makhluk di dunia ini yang diciptakan dalam keadaan buruk. Yeah, kecantikan itu milik semua makhluk baik yang bernyawa maupun yang tidak, juga semua orang. Jadi mengapa harus merasa diri kamu jelek?
Kita memang dibiaskan oleh pemahaman tentang standar. Persepsi kita dibentuk oleh klaim lingkungan. Ada standar mengenai pendidikan yang ideal, sehingga banyak orang rela bekerja keras untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah terbaik. Ada standar mengenai karir yang baik, sehingga jutaan orang bersaing untuk merebut kursi pekerjaan yang konon hanya bisa diraih oleh mereka yang terbaik. Semua orang bicara tentang standar, termasuk standar tentang apa itu cantik atau indah. Karenanya jutaan cewek mati-matian berdiet sampai kurus untuk menyandang predikat cantik itu.

Kita ditipu mentah-mentah oleh industri
Kalau kita nonton televisi, kita bisa melihat apa gambaran yang diusung oleh media melalui tayangan iklan maupun serial drama yang ada. Perempuan berkulit cerah, mancung, kurus, berkaki jenjang, rambut bersinar.... jangan tertipu wahai gadis-gadis! Terang saja gambaran itu yang ditampilkan, karena industri memiliki tendensi.

Gadis berkulit cerah dikatakan cantik memikat, karena industri kosmetik bertendensi krim pencerahnya laku. Kalau industri krim penggelap kulit tentu akan berkata lain, yaitu: tanned skin is sexy! Padahal, dunia ini menjadi berwarna dengan adanya keragaman warna kulit manusia-manusianya. Ada gadis India yang berkulit india yang eksotik, gadis berkulit hitam yang memikat, atau gadis berkulit kuning di Kazakstan yang mempesona. Gadis-gadis di tiap negara punya warna kulit beragam, bentuk wajah, bentuk hidung, bentuk mata yang beraneka rupa dan semuanya unik.
Gadis yang kurus langsing menawan dikatakan berbodi indah, karena industri suplemen dan nutrisi makanan bertendensi produknya diterima masyarakat. Padahal bentuk badan dipengaruhi faktor bawaan. Ada wanita yang cenderung punya badan berisi, ada pula yang cenderung berbadan ceking. Ada gadis yang punya bagian bawah tubuh besar, ada pula yang bagian atas tubuhnya berukuran di atas rata-rata. Tidak ada standar baku tentang bagaimana standar baku bentuk tubuh manusia, karena semua tubuh punya khas masing-masing.

Industri telah berhasil membiaskan persepsi kita tentang citra tubuh dan penampilan kita sendiri. Betapa banyak gadis yang merasa frustasi dengan keadaan dirinya, akhirnya mati-matian diet sampai kelaparan dan akhirnya sakit. Ada pula yang sibuk dengan krim-krim pemutih kulit sampai akhirnya kulit menjadi rusak akibat paparan kimia kosmetik. Semua demi mengejar standar kecantikan yang telah diklaim oleh industri.

Memiliki citra tubuh negatif sama dengan menyakiti diri kita sendiri
“Aduh pahaku kegedean...”
“Perutku terlalu buncit....”
“Kakiku terlalu pendek sih...”
“Idungku pesek banget!”
“Aduh dasar kulit item begini...”
“AKU BENCI DIRIKU!”

Sebuah survey terhadap lebih dari 45.000 wanita menyatakan bahwa 60% wanita tidak menyukai tubuh mereka sendiri, 35% cukup menyukai tubuh mereka, dan 5% sangat menyukai tubuh mereka sendiri. Jika seseorang mengeluhkan bentuk tubuhnya dan kemudian berupaya untuk memperbaikinya, misal dengan berolahraga lebih rutin dan mengatur pola makan, maka ini dapat membawa manfaat. Namun, yang terjadi justru banyak yang tenggelam dalam rasa frustasi terhadap diri dan tubuhnya dan berujung pada citra tubuh (body image) yang negatif.

Via Pinterest.com


Citra tubuh yang buruk oleh diri sendiri berakibat kita membenci diri sendiri. Kita akan sering menyalahkan diri kita sendiri mengapa tidak bisa “sesempurna” model iklan di media. Hal ini tentu akan merusak kepercayaan diri hingga relasi kita dengan orang-orang yang kita sayangi. Kita bisa saja merasa tidak layak dihargai dan dicintai karena keburukan diri kita, padahal setiap orang berhak untuk mendapat rasa kasih dari orang terdekatnya.

Citra tubuh negatif dapat mengakibatkan eating disorder, masalah seksual, hingga keinginan bunuh diri. Betapa malangnya diri kita jika kita menghujani diri kita sendiri dengan pikiran-pikiran negatif, ini sama saja dengan berbuat jahat terhadap diri sendiri.

Tidak ada kecantikan yang baku
Buang semua standar tentang kecantikan. Bagai dua koin mata uang, kecantikan punya dua wajah. Wajahnya yang universal dan wajah yang relatif. Sisi universal kecantikan atau keindahan adalah reaksi umum orang yang memandang apakah sesuatu itu menyenangkan dipandang. Visual appropriateness. Dan sisi relatifnya adalah, keindahan atau kecantikan seringkali subjektif dari sisi pengamat. Hal ini tentu dipengaruhi oleh persepsi dan pengalaman hidup seseorang. Seseorang yang berasal dari desa di Jawa, tentu menganggap perempuan yang cantik adalah yang berkulit kuning langsat. Di Afrika, perempuan gemuk justru dianggap seksi karena melambangkan kesuburan. Lain lagi di Barat, mereka yang berkulit gelap justru dianggap menawan karena eksotis, tidak pucat seperti ras kulit putih lainnya. Terbukti bukan?

Via viralviralvideos.com


Kalau begitu, setiap individu sebenarnya punya keindahannya masing-masing bukan? Hanya saja pengamat dengan persepsinya masing-masing menginterpretasikan keindahan yang ada didepannya betul-betul indah atau tidak. Keindahan dan kecantikan bukan sesuatu yang bisa dikomparasikan karena masing-masing adalah unik dan lekat dengan subjektifitas setiap orang. Kecantikan itu adil, ia hadir dalam setiap makhluk. Dan manusia yang dibiaskan oleh subjektifitasnya yang tidak kekal dan tidak mutlak tidak pernah bisa dijadikan tolok ukur. Jadi sebenarnya tidak ada seorangpun perlu mencemaskan apakah dirinya cantik atau tidak.

Manusia sempurna dengan kelebihan dan kekurangannya. Kesadaran atas ini adalah cinta yang sesungguhnya.
Mencintai diri sendiri berawal dari menerima diri kita sendiri apa adanya. Orang yang mencintai dirinya sendiri cenderung untuk merawat dirinya agar tetap sehat, produktif dan lain-lain yang bersifat positif. Orang yang mencintai dirinya sendiri tahu bagaimana mencintai orang lain dengan tepat.


Setelah membaca ini, buanglah pil-pil atau teh dietmu. Atau berhentilah memimpikan operasi plastik. Mulailah hidup yang sesungguhnya sebagai diri sendiri yang bahagia.

Comments

Popular posts from this blog

Road to Pregnancy: Program Inseminasi Buatan

Sebelumnya saya sudah menulis pengalaman program hamil ke dokter kandungan (dr. Rudi Harsono, SPOG), dan belum berhasil. Setelah mencari informasi lebih dalam, akhirnya saya dan suami memutuskan pergi ke Dr. Hendy Hendarto, SPOG, (K) Fer. Beliau adalah salah satu dokter kandungan ahli fertilitas yang juga praktik di Klinik Fertilitas Graha Amerta Surabaya. Ketika kami konsultasi, kami menceritakan semua riwayat pemeriksaan yang telah kami lakukan, termasuk riwayat masalah infeksi di dekat mulut rahim yang terjadi pada saya dan terapi obat yang dilakukan dokter kandungan sebelumnya.

10 Hal Serunya Jadi Cewek Tomboy

Hai readers, tahukah kamu kalau nggak semua cewek itu sama? Yup, cewek selalu identik dengan dandanan yang feminim, unyu dan imut, sikap yang malu-malu, kemayu, centil dan sebagainya. Apalagi trend girlband lagi nge-hits banget sekarang ini dengan gaya cewek-ceweknya yang unyu dan manis, sudah pasti orang-orang, terutama kaum cowok, akan menilai cewek dengan standar tersebut. Tetapi buat kamu cewek-cewek yang nggak punya style unyu dan manis a la cewek-cewek girlband, nggak usah keburu sedih dulu girls. Jadi cewek tomboy juga nggak ada ruginya kok, malah banyak keuntungannya. Coba deh simak tulisan di bawah ini.
1.Lebih bebas Banyak cowok bilang, cewek itu ribet banget. Butuh banyak waktu buat dandan, matching in warna baju dengan make-up, mesti jaga penampilan dan kebersihan, dan sebagainya. Hal-hal kecil yang nggak jadi soal buat cowok merupakan persoalan besar buat cewek. Tapi itu nggak jadi masalah buat cewek tomboy, karena umumnya cewek tomboy nggak terlalu peduli bahkan cuek abi…

Walau Bukan Tempat Wisata Sungguhan, 5 Pecinan Ini Layak Kamu Kunjungi

Pecinan, atau chinatown, adalah permukiman yang dihuni oleh etnis Tionghoa, di manapun mereka berada. Menurut sejarah, masyarakat Tionghoa adalah komunitas diaspora yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena mereka berani meninggalkan tanah kelahiran di dataran Tiongkok demi menemukan hidup baru ke seluruh penjuru dunia dengan jalan berdagang. Makanya jangan heran, sebab kamu bakal menemukan pecinan di kota-kota, baik Indonesia maupun di negara lainnya, bahkan Eropa hingga Amerika. Ada sesuatu yang khas yang bisa kamu dapati jika kamu berkunjung ke Pecinan, yakni arsitektur dan suasana kehidupannya yang unik. Di Indonesia ada banyak pecinan. Nah, pecinan mana saja yang layak kamu kunjungi? Simak artikel berikut ini.
1.Pecinan Semarang Di pecinan Semarang ini, kamu bisa menemukan 11 klenteng, di antaranya Klenteng Sam Poo Kong yang terkenal itu. Sam Poo Kong sudah datang ke pesisir Semarang pada abad ke 15 dan kemudian mendirikan klenteng sebagai pusat kosmos perkampungan yang terbentuk k…