Skip to main content

Untuk Cewek-cewek, Kamu Nggak Perlu Takut Hidupmu Berhenti Setelah Menikah



Kehidupan akan menjadi serba berbeda ketika kita sudah menikah. Kita nggak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi juga demi keluarga, yaitu anak dan suami. Otomatis, keinginan-keinginan pribadimu terpaksa harus dikompromikan karena kamu harus mendahulukan kebutuhan keluarga di atas kepentingan pribadi kamu. Termasuk karir dan keinginan untuk menempuh studi lebih lanjut terpaksa kamu kesampingkan karena ternyata mengurus suami dan anak jauh lebih menyita perhatian dari yang kamu bayangkan. Dalam angan-anganmu, kamu ingin kuliah lagi agar lebih dapat menempa diri dan siapa tahu ke depan karirmu bisa menjadi lebih baik daripada sekarang ini. Namun apa daya, keluarga harus di nomor satukan.

Selain itu, kamu mulai sangsi, dengan kesibukanmu mengurusi rumah tangga, apakah ilmu yang akan kamu peroleh dari pendidikan tinggi akan bermanfaat? Jangan-jangan malah nggak ada gunanya, karena ternyata kamu harus mengabdi selamanya kepada keluarga. Apalagi sekolah S2 itu nggak murah. Dan suami juga belum tentu merestui. Kamu jadi galau karena ternyata hidupmu menjadi berhenti, stagnan, setelah kamu memutuskan untuk fokus mengurus rumah tangga. Kamu khawatir nggak bisa ngapa-ngapain lagi, bahkan hanya untuk meningkatkan kualitas diri saja rasanya harus banyak pertimbangan.

Sebenarnya hidupmu bukan berhenti, hanya saja kini banyak yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan.
Pertimbangan yang umum dilakukan adalah, waktu dan perhatian untuk keluarga. Anakmu baru saja lahir, tentu saja bayi mungilmu ini belum bisa ngapa-ngapain sendiri. Kalau kamu mau meninggalkan anakmu untuk bekerja atau kuliah, tentu kamu harus menitipkannya ke orang lain yang bisa dipercaya. Kalau nggak pengasuh berpengalaman, ya saudara atau orang tua. Karena tanggung jawabmu dobel, tentu kamu harus merelakan waktu istirahat untuk kegiatan lain, entah itu belajar atau mengurus anakmu yang masih kecil.
Kebebasanmu kini nggak sebesar dahulu, itu aja. Kamu hanya perlu memaklumi dan menerima hal ini aja. Terimalah kini bahwa ada yang bergantung kepadamu, makanya kamu harus mempertimbangkan baik-baik tindakan yang akan kamu lakukan.

Dulu kamu selalu bisa memutuskan apapun sendiri, kini ada suami yang juga berhak menentukan apa yang harus kamu lakukan.
Menikah dan berkeluarga akan membuatmu tak lagi sebebas merpati. Suami juga berhak memberi masukan dan menentukan keputusan apa yang akan kamu ambil, meskipun keputusan itu bersifat pribadi. Ya dong, suami kan kepala keluarga, dia juga bertanggung jawab atas akibat-akibat yang akan terjadi sebagai konsekuensi tindakanmu. Tentu kalian nggak ingin kalau keputusan apapun akan merugikan keluarga bukan? Maka dari itu, kamu harus rela dan ikhlas jika ternyata suami nggak mengizinkan kamu bekerja atau kuliah lagi, selama beberapa waktu. Dia pasti memiliki alasan mengapa nggak mau merelakan kamu bekerja sehari-hari. Mungkin menurutnya keluarga membutuhkan kehadiran kamu seutuhnya saat ini, atau anak-anak masih terlalu kecil untuk kamu tinggalkan. Mungkin juga karena suami bekerja di luar kota, menurutnya lebih baik kamu fokus di rumah mengurus keluarga.
Sebagai wanita yang sudah berkeluarga, sadarlah bahwa pendapat dan izin suami adalah hal yang harus dijadikan pertimbangan utama. Jangan sampai kalian berantem hanya karena ego pribadi.

Mengurus keluarga, suami dan anak adalah bagian dari perjalanan hidupmu. Makanya kamu nggak perlu merasa kehilangan diri sendiri.
Berkeluarga dan menjadikan mereka prioritas utama saat ini bukan berarti kamu kehilangan dirimu sendiri. Mengurus keluarga adalah bentuk “karya” yang bisa kamu lakukan, dan juga sebagai investasi pribadi maupun bersama suami di masa depan. Menjadi istri dan ibu adalah bagian hidup, dan tentu dalam menjalankan peran ini kamu harus memiliki kedirian atau pribadi yang kuat. Kalau menyikapi diri sendiri saja kamu belum baik, bagaimana kamu akan berperan sebagai istri dan ibu yang baik pula? Membangun diri sebaik-baiknya justru adalah hal yang harus kamu lakukan demi menjadi istri dan ibu teladan ini. Tetapkan tujuan dan keinginanmu, sertakan keluarga di dalamnya. Dengan demikian, kamu nggak perlu merasa menjadi “korban” karena harus memprioritaskan keluarga di atas hal lain.

Jika kamu memiliki keyakinan dan keinginan kuat, akan selalu ada kesempatan untuk berkarir atau melanjutkan kuliah. Jika bukan sekarang, mungkin nanti.
Pilihan pribadi menjadi ibu bekerja atau kuliah S2 adalah hak masing-masing orang untuk menentukan. Jebret nggak ingin memperdebatkan soal lebih baik mana antara ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Semua hal tentu baik jika dilandasi dengan pertimbangan dan tujuan yang baik pula. Menjadi ibu bekerja mungkin perlu bagi sebagian orang karena adanya kebutuhan sokongan dana rumah tangga dari pihak suami maupun istri. Menjadi ibu rumah tangga mungkin penting bagi sebagian orang karena suami bekerja di luar kota, sehingga harus ada ibu yang selalu siaga di rumah. Kuliah S2 barangkali penting bagi sebagian perempuan karena tuntutan profesi seperti misalnya dosen, peneliti atau pemegang jabatan penting di instansi. Namun ada pula orang yang melanjutkan studi karena ingin memperdalam keahliannya di suatu bidang. Nggak ada motivasi yang salah bukan, tergantung dari keadaan yang sedang dihadapi saja.
Namun yakinlah bahwa gak ada ilmu yang sia-sia jika dipelajari dengan sungguh-sungguh. Pun jika kamu menjadi ibu rumah tangga, kamu harus tetap pintar, karena kamu mesti mendidik dan membesarkan anak nantinya. Tugas merawat dan membesarkan anak itu nggak main-main lho, kamu kan nggak mau kalau anakmu sampai salah asuh? Tetaplah belajar dan menggali ilmu, meski kamu belum berkesempatan kuliah lagi. Sekarang ilmu bisa didapat di mana saja kan? Kamu bisa mengikuti seminar, workshop, komunitas atau kursus online yang gratis maupun berbayar. Sama sekali nggak ada batas. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Tinggal kamu mau atau nggak dalam melakukannya.

Setiap keinginan tentu ada konsekuensinya. Bersiaplah menghadapi resiko dari keinginanmu apapun itu.
Menjadi ibu secara full-time memiliki konsekuensi bahwa kamu menjadi kurang bergaul, kurang informasi terhadap dunia luar alias kudet. Sedangkan menjadi ibu bekerja atau kuliah S2 sambil mengurus keluarga beresiko terbaginya waktumu dan energi yang terkuras karena harus membagi fokus serta perhatian. Kebayang kan capeknya luar biasa. Namun ini kan keputusan kamu, dan jika suami mengizinkan, mengapa harus menyerah. Hadapi saja konsekuensinya, demi cita-cita pribadi yang ingin kamu raih. Banyak istri dan ibu yang sudah membuktikan, dengan kerja keras dan kelihaian membagi waktu, mereka berhasil menyelesaikan kuliah S2, punya pencapaian dalam karir, dan disamping itu semua, anak-anak mereka tumbuh sehat dan cerdas. Tentu saja pencapaian ini butuh kerja keras yang luar biasa. Namun segala keputusan pasti membutuhkan pengorbanan bukan?
Menjadi wanita yang sudah menikah dan berkeluarga memang mengemban tanggung jawab berlipat ganda. Namun yakinlah, dengan segala amanah yang ada bukan berarti hidupmu menjadi hilang atau terhenti, namun semakin banyak tantangan. Bukankah itu artinya hidupmu menjadi lebih seru untuk dijalani?

Comments

Popular posts from this blog

Yuk Pakai Batik Rame-rame. Ini Nih Alasannya!

Batik memang busana istimewa bagi orang Indonesia. Barangkali nggak teramat istimewa buat kamu karena sudah terbiasa, apalagi batik sekarang udah menjadi dresscode tersendiri baik di tempat kerja, pesta, bahkan acara kasual sekalipun. Tapi kalau kamu memakai busana batik di luar negeri, wow! Sensasinya terasa beda. Selain punya corak khas lokal yang unik, batik juga menjadi identitas bagimu sebagai orang Indonesia di dunia luar sana. Soalnya emang nggak ada yang nyamain sih. Berapa koleksi yang kamu miliki di lemari bajumu? Sepotong atau dua potong? Wah, kalau cuma segitu aja, kamu harus menambah koleksi baju batikmu nih. Soalnya banyak alasan kenapa kamu harus bangga dan demen mengenakan batik di manapun. Ini dia ulasan singkatnya.
1.Batik udah menjangkau semua kalangan masyarakat dan bukan lagi sebagai produk yang eksklusif. Dulu, pemakai kain batik benar-benar kalangan terbatas aja. Yoi, itu adalah ketika batik masih diproduksi secara tradisional, alias masih menggunakan canting. M…

Walau Bukan Tempat Wisata Sungguhan, 5 Pecinan Ini Layak Kamu Kunjungi

Pecinan, atau chinatown, adalah permukiman yang dihuni oleh etnis Tionghoa, di manapun mereka berada. Menurut sejarah, masyarakat Tionghoa adalah komunitas diaspora yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena mereka berani meninggalkan tanah kelahiran di dataran Tiongkok demi menemukan hidup baru ke seluruh penjuru dunia dengan jalan berdagang. Makanya jangan heran, sebab kamu bakal menemukan pecinan di kota-kota, baik Indonesia maupun di negara lainnya, bahkan Eropa hingga Amerika. Ada sesuatu yang khas yang bisa kamu dapati jika kamu berkunjung ke Pecinan, yakni arsitektur dan suasana kehidupannya yang unik. Di Indonesia ada banyak pecinan. Nah, pecinan mana saja yang layak kamu kunjungi? Simak artikel berikut ini.
1.Pecinan Semarang Di pecinan Semarang ini, kamu bisa menemukan 11 klenteng, di antaranya Klenteng Sam Poo Kong yang terkenal itu. Sam Poo Kong sudah datang ke pesisir Semarang pada abad ke 15 dan kemudian mendirikan klenteng sebagai pusat kosmos perkampungan yang terbentuk k…

Buat Kamu yang Gemar Berlomba, Tips Memenangkan Kompetisi atau Sayembara

Hidup jangan habis hanya untuk dipakai kerja, belajar, main, bergaul dan sebagainya yang udah kelewat biasa-biasa aja. Sesekali menguji kemampuan diri melalui ajang kompetisi atau sayembara nggak ada salahnya kan. Ada banyak ajang kompetisi yang dibuat untuk berbagai bidang. Sebutlah film, karya tulis, desain produk, arsitektur, penataan kota, musik, dan macam-macam lagi yang bisa kamu ikuti sesuai bidang dan keahlian yang kamu miliki. Selain menambah pengalaman, ajang kompetisi juga bisa menambah portofolio karyamu lho. Apalagi kalau kamu berhasil memenangkannya, selain dapat hadiah, prestasi ini akan menjadi momen berharga dalam hidupmu. Siapa sih yang nggak bangga kalau jadi juara kompetisi tingkat nasional, atau bahkan, tingkat internasional?