Skip to main content

Road to Pregnancy: Program Inseminasi Buatan



Sebelumnya saya sudah menulis pengalaman program hamil ke dokter kandungan (dr. Rudi Harsono, SPOG), dan belum berhasil. Setelah mencari informasi lebih dalam, akhirnya saya dan suami memutuskan pergi ke Dr. Hendy Hendarto, SPOG, (K) Fer. Beliau adalah salah satu dokter kandungan ahli fertilitas yang juga praktik di Klinik Fertilitas Graha Amerta Surabaya. Ketika kami konsultasi, kami menceritakan semua riwayat pemeriksaan yang telah kami lakukan, termasuk riwayat masalah infeksi di dekat mulut rahim yang terjadi pada saya dan terapi obat yang dilakukan dokter kandungan sebelumnya.



Oleh Dr. Hendy, kami disarankan mengecek 3 hal ini: hormon yang mempengaruhi fertilitas ibu, saluran, dan sperma. Ya sebelumnya kami memang belum melakukan tes apa-apa, tetapi dr. Rudy sudah nembak bahwa saya punya masalah dengan hormon prolaktin dan dikasih resep Cripsa yang mahal banget itu... Jadi idealnya memang harus tes hormon via cek darah. Segera kami diberi pengantar untuk tes laboratorium Parahita untuk tes tiga hal tersebut. Saya harus ambil darah untuk tes hormon Luteinizing Hormon (LH), Folicle Stimulating Hormone (FSH), Prolaktin dan Estriol. tes darah tersebut harus dilakukan pada hari ke3 menstruasi. Selain itu saya juga harus periksa saluran tuba (HSG) apakah ada buntu atau lengket atau tidak. Saluran tuba bisa mengalami lengket jika kita mengalami radang atau infeksi di saluran itu yang akhirnya terbentuk lendir yang bisa menghalangi jalannya keluar telur dan masuknya sperma. tes HSG harus dilakukan pada hari 10-12 di siklus bulanan. Karena pemeriksaannya tergolong rumit, harus bikin janji dengan laboratoriumnya, available jam berapa dan tanggal berapa. Sedangkan suami harus tes sperma. Prosedurnya lumayan rumit juga, karena untuk tes analisis sperma, harus dilakukan minimal 3 hari setelah berhubungan atau sperma dikeluarkan terakhir kali. karena ternyata produksi sperma adalah 3 hari sekali, jadi kalau dalam rentang waktu itu pernah mengeluarkan sperma, harus menunggu 3 hari lagi supaya yang dikeluarkan adalah produksi terbarunya. selain itu tes analisis sperma harus dilakukan pagi hari sebelum jam 9, di mana kondisi sperma masih dalam keadaan fresh karena badan belum capek. Jadi untuk pengambilan sample, suami harus dalam keadaan terbaiknya, untuk dianalisis seberapa baguskah sperma dalam keadaab paling prima tersebut.

Singkat kata kami melakukan semua tes itu. untuk tes hormon, karena ada 4 hormon yang harus dianalisis, jatuhnya lumayan mahal, yaitu 1,3 juta, sedanghan untuk tes HSG, saya harus merogoh kocek 1,1 juta, jadi total untuk periksa lab saya, habis sekitar 2,4 juta. Sedangkan tes analisis sperma lebih murah karena hanya satu objek analisisnya, habis sekitar 350.000. Setelah hasil tes keluar kami segera kembali ke Dr. Hendy untuk konsultasi.

Alhamdulilah, ternyata hasil tes saya baik sekali. Kedua tuba dalam keadaan patent atau tidak buntu, dan hasil tes hormon juga baik, hanya saja hormon prolaktin memang agak tinggi, mendekati ambang batas. Namun katra Dr. Hendy masih bagus untuk ovulasi. Sedangkan hasil tes suami, kurang ideal kondisinya. Jumlah ideal sperma per Ml adalah 15 juta, sedangkan sperma suami hanya 14,5 juta. Kemudian untuk bentuk sperma idealnya untuk bentuk normal adalah di atas 4%, sedangkan hasil sperma suami hanya 2% yang bentuknya normal. Pada hasil analsisis sperma tersebut, diketahui kondisi sperma suami adalah Oligoteratospermia. Oligo artinya kurang banyak, sedangkan terato artinya bentuknya kurang bagus, sehingga kemampuan renangnya lambat, selain itu sperma kan merupakan pembawa genetik dari ayah, kalau bentuknya nggak sempurna, maka dia nggak bisa membawa genetik yang baik buat janin. Malah kata Dr. Hendy, kalau spermanya jelek bisa menimbulkan kecacatan pada janin. Serem juga ya.

Suami sempat agak down dengan hasil tes tersebut, namun menurut Dr. Hendy kondisi tersebut bisa diperbaiki, hanya saja tidak bisa instan. Malah menurut beliau, ada orang yang nggak ada spermanya sama sekali, atau Aspermia, alias dalam 1 ml nggak ada satupun sel spermanya. kalau kondisinya udah begini, harus program serius, bayi tabung, dan sperma harus diambil langsung dari sumbernya. Jadi kondisi kami masih harus disyukuri sekali.

Akhirnya Dr. Hendy memberi resep untuk suami yaitu Oligocare dan Vitan selama 30 hari dan harus mengulangi obat sampai 3 siklus atau 3 bulan. Oligocare dan Vitan lumejen juga harganya, karena untuk 30 hari itu, kami harus menebus sampai 650.000. Duh kebiasaan pake obat generic puskesmas sih.... hehehe... Tapi sekali lagi, demi hasil optimal kami mengikhlaskan saja. Toh ikhtiar yang baik akan dihitung amal yang baik juga. Akhirnya selama 3 bulan itu, suami harus minum Oligocare dan Vitan. Trik supaya nggak berat di ongkos, suami akhirnya selang seling minumnya, jadi nggak tiap hari juga minumnya hehehe...

Setelah 3 bulan treatment, belum ada juga tanda-tanda kehamilan. Selain itu kami sudah mendekati 2 tahun usia pernikahan. Suami mengusulkan agar kami mengambil tindakan serius inseminasi untuk mempercepat program kehamilan ini. Awalnya saya menolak. Ya tahu sendiri, saya tipe orang yang mudah overthinking dan cemas dengan sesuatu yang terlalu ditarget. Untuk inseminasi buatan, kami harus merogoh kocek 6-7 juta. Harga yang lumayan karena waktu itu memang secara penghasilan kami masih agak tersendat-sendat. Proyek lagi sepi banget (ya, tahun 2015-2018 memang banyak yang mengeluhkan kelesuan ekonomi, meski katanya secara pertumbuhan ekonomi di negara ini masih normal. Fenomena anomali menururt para ahli sih).

Saya ingat sekali waktu itu saya menolak sampai nangis. Argumen saya, suami adalah tipe orang yang nggak sabaran, dan mudah sekali emosi saat target nggak tercapai. Termasuk program baby ini, dia menganggap ini sebagai sesuatu yang target oriented. Pada akhirnya, kami menjadi stres dan itu mengganggu proses hubungan suami-istri. Rasanya garing dan nggak penuh cinta gitu. Kalau proses alamiah aja dia udah nggak sabaran, apalagi yang proses tindakan serius, yang pasti keluar modal banyak, juga effort yang lebih besar.

Padahal menurut Dr. Hendy tingkat keberhasilan program inseminasi maksimal 20% aja, sama seperti cara alami, namun program ini berusaha mendekatkan ke angka yang 20% itu. FYI, Dr. Hendy bahkan mengatakan jika program bayi tabung juga tingkat keberhasilannya cuma 40% aja. Lebih tinggi karena ovum pasti terbuahi oleh sperma. Tapi meski begitu peluang gagal tetap saja ada, bergantung apakah zygot bisa berkembang menjadi janin atau tidak di rahim si ibu.

Saya beralasan kepada suami, kita toh nggak infertil, cuma keadaan belum ideal saja. Kalau dicoba terus sambil mengupayakan pola hidup sehat pasti berhasil. Karena saya melihat sudah banyak yang membuktikan bahwa dengan memperbaiki gaya hidup jadi lebih sehat, mereka akhirnya bisa memiliki anak meski sudah divonis oleh dokter nggak bakal bisa punya anak.

Namun suami nggak menyerah untuk meyakinkan saya, bahwa ikhtiar itu ada jalannya, siapa tahu Allah memberikan ridhonya lewat ikhtiar yang ini. Nggak ada salahnya dicoba, daripada berandai-andai dalam ketidak pastian, jadi lebih baik dicoba aja dengan mindset nothing to lose. Setelah lama meyakinkan saya, akhirnya saya menyetujui rencana tersebut. Lagipula kami masih ada tabungan, mengenai keuangan, yah duit bisa dicari lagi. Kalau niat kami ikhlas, insya Allah akan ada jalan.

Bersambung...

Comments

Popular posts from this blog

10 Hal Serunya Jadi Cewek Tomboy

Hai readers, tahukah kamu kalau nggak semua cewek itu sama? Yup, cewek selalu identik dengan dandanan yang feminim, unyu dan imut, sikap yang malu-malu, kemayu, centil dan sebagainya. Apalagi trend girlband lagi nge-hits banget sekarang ini dengan gaya cewek-ceweknya yang unyu dan manis, sudah pasti orang-orang, terutama kaum cowok, akan menilai cewek dengan standar tersebut. Tetapi buat kamu cewek-cewek yang nggak punya style unyu dan manis a la cewek-cewek girlband, nggak usah keburu sedih dulu girls. Jadi cewek tomboy juga nggak ada ruginya kok, malah banyak keuntungannya. Coba deh simak tulisan di bawah ini.
1.Lebih bebas Banyak cowok bilang, cewek itu ribet banget. Butuh banyak waktu buat dandan, matching in warna baju dengan make-up, mesti jaga penampilan dan kebersihan, dan sebagainya. Hal-hal kecil yang nggak jadi soal buat cowok merupakan persoalan besar buat cewek. Tapi itu nggak jadi masalah buat cewek tomboy, karena umumnya cewek tomboy nggak terlalu peduli bahkan cuek abi…

Walau Bukan Tempat Wisata Sungguhan, 5 Pecinan Ini Layak Kamu Kunjungi

Pecinan, atau chinatown, adalah permukiman yang dihuni oleh etnis Tionghoa, di manapun mereka berada. Menurut sejarah, masyarakat Tionghoa adalah komunitas diaspora yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena mereka berani meninggalkan tanah kelahiran di dataran Tiongkok demi menemukan hidup baru ke seluruh penjuru dunia dengan jalan berdagang. Makanya jangan heran, sebab kamu bakal menemukan pecinan di kota-kota, baik Indonesia maupun di negara lainnya, bahkan Eropa hingga Amerika. Ada sesuatu yang khas yang bisa kamu dapati jika kamu berkunjung ke Pecinan, yakni arsitektur dan suasana kehidupannya yang unik. Di Indonesia ada banyak pecinan. Nah, pecinan mana saja yang layak kamu kunjungi? Simak artikel berikut ini.
1.Pecinan Semarang Di pecinan Semarang ini, kamu bisa menemukan 11 klenteng, di antaranya Klenteng Sam Poo Kong yang terkenal itu. Sam Poo Kong sudah datang ke pesisir Semarang pada abad ke 15 dan kemudian mendirikan klenteng sebagai pusat kosmos perkampungan yang terbentuk k…