Skip to main content

Road to Pregnancy: Program Inseminasi Buatan (2)



Akhirnya setelah anniversary pernikahan kami yang ke-2, kami kembali ke Dr. Hendy dan menyatakan akan mengambil program inseminasi. Dr. Hendy menyarankan kami kembali saat menstruasi hari ke-3 untuk awal pemeriksaan intensif. Oiya, sebelumnya, Dr. Hendy juga memeriksa kondisi rahim saya dengan menggunakan USG untuk melihat ada kista atau tidak. Dan alhamdulilah, ternyata rahim saya bersih nggak ada kista, sehingga treatment medikal bisa dilakukan. Karena kalau ada kista atau endometriosis, harus dituntaskan dulu masalahnya, baru deh boleh program hamil. Untuk para ibu yang hendak program hamil serius, harus cek keadaan rahim juga ya, jangan asal minum vitamin/suplemen penyubur kandungan atau minum-minum obat herbal sembarangan. Karena kalau ternyata kita ada masalah kista atau endometriosis, minum obat sembarangan malah bisa memperparah keadaan kistanya lho. Dia bisa makin membesar akibat suplemen penyubur kandungan itu.

Pada saat hari ke-3 menstruasi, saya dikasih resep suplemen vitamin E dan Profertil, yang harus diminum selama 5 hari. Suplemen tersebut akan membantu terbentuknya sel telur di ovarium, dan menstimulasi ovarium untuk memproduksi sel telur lebih dari satu. Karena ini program inseminasi, maka harus diupayakan sekalian agar ibu bisa mengeluarkan sel telur lebih dari satu, maksudnya untuk cadangan bila ada sel telur yang gagal terbuahi. Itulah sebabnya, kebanyakan orang yang menjalani program inseminasi atau bayi tabung memiliki anak kembar, bahkan ada yang sampai kembar lima lho. Selain suplemen untuk saya, suami juga dikasih resep Vitan, untuk memaksimalkan jumlah dan kualitas sperma.

Oiya, ini nih yang paling saya suka dari Dr. Hendy, orangnya realistis dan kalem. Beliau nggak menjanjikan keberhasilan program secara muluk-muluk, malah menjelaskan bahwa ada kemungkinan program ini bisa gagal. Beliau juga menekankan, pentingnya berserah dan berdoa kepada Tuhan, karena gimana juga Tuhan-lah yang Maha Pencipta dan Maha Pemberi. Jadi keberhasilan program baby juga sangat bergantung pada faktor X yang nggak bisa kita kendalikan, makanya berdoa itu wajib, selain merayu Dia untuk mempercayakan amanah ini ke kita, juga sebagai ikhtiar batiniah kepada kita untuk senantiasa merasa berserah dan ikhlas atas apapun hasilnya nanti. Selain itu Dr. Hendy adalah tipe dokter yang cool dan sabar banget. Semua pertanyaan kami dijawab, sekalipun itu pertanyaan yang paling cupu. Bahkan kami beberapa kali mengulang-ulang pertanyaan saking awam dan cupunya, tapi semua tetap dijawab dengan cool oleh Dr. Hendy. Beliau juga orangnya efektif dalam menjelaskan. Beliau nggak segan untuk menggambar dalam bentuk sketsa dan semua dengan bahasa yang ringkas. Kalau diperhatikan, pasien yang konsultasi ke beliau durasinya pendek-pendek, hanya sekitar 10-15 menit. Relatif singkat ya utuk konsultasi ke dokter spesialis. Dan dokternya nggak kesusu dalam ngeladeni pasien, bukinya semua pertanyaan kami dijawab tuntas sampai nggak ada ganjelan lagi. Nggak seperti di dr. Rudi sebelumnya yang 1 orang aja bisa sampai 30 menit konsultasinya, itupun nggak bisa nanya-nanya sampe puas.

Balik lagi ke proses program inseminasi, hari ke 9, 10, dan 11 di siklus menstruasi,saya dijadwalkan untuk suntik Gonal F. Untuk suntik Gonal F ini saya harus ke Klinik Fertilitas Graha Amerta. Ini karena kata Dr. Hendy, ampul suntiknya memang ada di sana, jadi harus ke sana kalau mau suntik. Bentuknya mirip pen insulin dan disuntikkan ke daerah perut bawah pusar. Oleh perawat saya ditanya apakah ingin membawa pulang ampulnya (karena 3 kali suntik selama 3 hari berturut-turut) untuk diinjeksikan sendiri atau ingin suntik di klinik saja. Saya memutuskan untuk suntik di klinik, jadi selama tiga hari itu saya harus ke klinik untuk suntik. Bukan apa-apa, agak khawatir aja kalau suntik sendiri malah salah. Tadinya sih agak ngeri ya, gimana rasanya perut disuntik, eh ternyata nggak berasa apa-apa sama sekali. Jarumnya juga pendek, cuma 1 cm-an. Jadi paling cuma sakit clekit, persis digigit semut, itupun hampir nggak berasa. Saya sampai diketawain perawatnya karena keliatan takut di awal, hehe... Biaya sekali suntik sekitar 620.000. Lebih murah dari yang saya bayangkan, tadinya saya mengira akan habis 800.000-1000.000 sekali suntik.

Setelah itu, 3 hari kemudian, saya dijadwalkan untuk USG transvaginal. USG ini juga harus di Klinik Fertilitas, karena di tempat praktik Dr. Hendy yang di Ketabang Kali nggak ada alatnya. Waktu USG, saya didampingi suami. Saya minta dia dampingi untuk mengetahui perkembangan sel telur juga, supaya saya nggak jelasin lagi kalau di rumah. Oiya, jadwal Klinik Fertilitas ini dari jam 8.00 sampai jam 14.00, jadi suami mesti ijin setengah hari dari kantor, supaya bisa menemani saya USG. Hasil USG transvaginal, terlihat telur sudah mencapai ukuran yang semestinya untuk siap berovulasi, di kiri ada 1, di sebelah kanan juga ada 1. Sebetulnya ada lagi sel telur yang lain, hanya aja ukurannya lebih kecil dari ukuran standarnya. Selain itu Dr. Hendy juga mengukur ketebalan dinding rahim apakah siap untuk menampung janin, ternyata ukuran dinding rahim juga bagus dan ideal untuk janin berkembang. Jadi singkatnya, hasil pemeriksaan USG transvaginal sangat baik. Dr. Hendy kemudian menjadwalkan tindakan inseminasi 4 hari kemudian, yaitu 22 Maret 2018. Selain itu beliau juga memberi ampul suntik pemecah telur yang bentuknya sama seperti suntik Gonal F. Bedanya kali ini ampulnya lebih ramping. Sayangnya kali ini, ampulnya harus saya bawa pulang karena harus disuntikkan jam 8 malam, jadi mau tidak mau harus suntik di rumah, atau minta bantuan bidan/dokter di klinik dekat rumah. Perawat membuatkan saya pengantar agar saya bisa suntik di klinik dekat rumah jika dibutuhkan. Tetapi untunglah, mama saya dulu adalah bidan, tapi sudah lama sekali nggak praktek, beliau resign dari bidan puskesmas karena ingin fokus mengurus anak-anak dan rumah ketika saya masih SD. Jadinya, saya minta tolong mama untuk suntik pecah telurnya, yaitu malam sebelum tindakan inseminasi alias tanggal 21 Maret. Biaya USG transvaginal dan suntik pecah telur plus biaya konsultasi totalnya 1,2 juta.

Akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Pagi-pagi saya dan suami sudah tiba di klinik Fertilitas. Maksudnya sih selain karena mengambil sperma memang idealnya pagi-pagi, juga karena ingin supaya cepat selesai. Suami lagi-lagi cuti setengah hari supaya bisa ke Klinik untuk inseminasi. Setelah mendaftar di frontdes, perawat memberi kami tabung kecil untuk menampung sperma suami supaya bisa dipreparasi. Lama waktu preparasi sperma ini lumayan juga ya, hampir 2,5 jam untuk menyiapkan sperma, dibersihkan, diberi nutrisi dan dipilah-pilah mana yang paling bagus gerak dan bentuknya. Kami harus menunggu hingga jam setengah dua karena ternyata Dr. Hendy ada jadwal rapat jam 11 sampai jam 1 siang. Karena ada jadwal mengajar jam 1, suami terpaksa pergi duluan dan saya menunggu sendirian di klinik. Untungnya di Graha Amerta ada beberapa kafetaria dan mushalla yang nyaman. Jadi saya bisa makan siang dan shalat Dhuhur terlebih dulu sambil menunggu Dr. Hendy datang.

Pukul 1 siang, saya kembali ke Klinik Fertilitas, namun saya ternyata masih harus menunggu sebentar lagi. Pukul 1.15 saya dipanggil masuk ke ruang tindakan. Saya harus berganti baju, semacam kemeja khusus pasien yang mau operasi. Saya disuruh menunggu di ruang tindakan. Agak lama sekitar 15 menit, Dr. Hendy datang dan langsung bersiap-siap untuk melakukan tindakan inseminasi. Ternyata prosesnya sangat cepat, nggak sampai 5 menit. Serviks saya dibuka dengan alat cocor bebek, kemudian dipasang selang kateter. Kemudian sperma suami dimasukkan melalui selang kateter itu. Saya nggak bisa melihat dengan jelas, karena sedang berbaring tentunya. Sebelum sperma dimasukkan, perawat menanyakan apakah betul nama yang ada di tabung adalah benar nama suami saya. Takutnya kan salah atau tertukar, hehehe...

Setelah tindakan inseminasi, Dr. Menyuruh saya berbaring dulu supaya sperma bisa berenang naik, kira-kira 45-menit sampai 1 jam. Selain itu Dr. Hendy juga menyarankan saya dan suami untuk berhubungan 2 hari kemudian supaya ada penambahan sperma di rahim, jadi kemungkinan terbuahi makin besar. Kemudian saya menunggu sampai 50 menit. Tadinya saya berencana menunggu sampai 1 jam, namun sampai menit ke 50 saya nggak tahan lagi ingin buang air kecil, akhirnya pelan-pelan saya bangun untuk ke toilet dan sekalian ganti pakaian.

Obat penguat kandungan
Setelahnya saya ke front desk untuk membayar, seluruh tindakan inseminasi plus preparasi sperma habis sekitar 2,3 juta, ditambah saya diberi obat penguat kandungan Utrogestan 200 mg, sebanyak 1 box isi 15 butir. Cara pemakaiannya dimasukkan melalui vagina sedalam mungkin sebelum tidur, mirip obat antibiotik Flagystatin yang pernah diresepkan dr. Rudy dulu, hanya saja yang ini bentuknya lebih kecil. Perawat berpesan untuk menggunakan obat ini sampai habis, jika sampai 14 hari tidak menstruasi, sebaiknya testpack dilakukan seminggu setelahnya. Kalau sampai 14 hari ternyata keluar menstruasi, berarti program inseminasi kali ini belum berhasil. Setelah itu saya pulang dengan memesan Go-Car, karena kalau naik Go-Ride takutnya banyak kena guncangan di jalan. Oiya, saya juga diberi berkas hasil pemeriksaan sperma suami sewaktu preparasi sperma tadi.
Nah, di sini kemudian masa-masa tegang dan deg-degan dimulai.

Deg-degan euy
Dari awal mulai program inseminasi, saya udah membayangkan kemungkinan akan punya bayi kembar. Lucu sih, tapi pusingnya pasti dobel. Orang punya bayi satu aja pasti repotnya bukan main, apalagi punya bayi 2 atau 3. Tetapi suami malah excited banget. Sudah lama dia mendambakan punya anak kembar. Apalagi waktu melihat foto-foto bayi hasil kiriman para orang tua yang sudah sukses program inseminasi dan bayi tabung di Klinik Fertilitas, hampir semuanya bayi kembar. Saya makin deg-degan, sementara suami malah berdoa supaya jadinya kembar. Lama-lama saya jadi excited juga, tapi sekaligus nervous. Campur aduklah, padahal belum apa-apa. Bener-bener kebiasaan overthinking.

Sepulang dari Klinik Fertilitas, saya banyak beristirahat. untungnya masih awal tahun, jadi belum ada proyek yang datang. Proyek pemerintah biasanya dimulai bulan Mei, sekaligus masih daftar-daftar tender. Jadinya saya memang fokus beristirahat. Sambil istirahat, saya membaca hasil pemeriksaan sperma suami. Hasilnya: Teratospermia. Jadi ternyata sperma yang dikeluarkan banyak, diatas 15 juta per ml, 17 juta per ml kalau tidak salah. Tetapi dari segi morfologi masih belum ideal yaitu 2% saja yang bentuknya normal. Selain itu ternyata motilitas sperma suami cukup rendah bahkan ada yang tidak bergerak sama sekali. Namun terlihat di tabel sebelahnya, yaitu kondisi sperma setelah preparasi, pergerakannya jadi lebih bagus. dari 3 ml sperma yang dikeluarkan, hanya 0,5 ml saja yang digunakan untuk tindakan inseminasi. Dari situ saya deg-degan (lagi), kalau kualitas sperma kayak gini apa bisa dia membuahi sel telur saya. Jangan-jangan memang nggak bagus dari dulu, makanya saya nggak hamil-hamil. Kemudian saya ingat, dulu kan saya juga ada problem infeksi, itu juga merupakan faktor saya sulit hamil karena jalan sperma terhalang oleh kuman di dekat mulut rahim. Juga dalam proses inseminasi ini, sperma sudah ditreatment, sehingga kualitasnya pasti lebih bagus. Saya berusaha menenangkan diri sendiri dan mengingat semangat awal kami bahwa untuk program ini harus kami jalani dengan ikhlas dan nothing to lose.

Sehari setelah inseminasi, saya merasakan nyeri pada daerah punggung dan perut bawah. Duh saya jadi takut ada apa-apa. Setelah masak pagi, saya lekas-lekas beristirahat berbaring di kamar sampai sakitnya mereda. sambil beristirahat saya googling apakah ini adalah tanda-tanda ovulasi? mungkin karena kemungkinan sel telur yang keluar dua atau lebih makanya jadi lebih pegel gitu. Hari sabtu, hari ke-2 setelah inseminasi, saya habiskan juga dengan beristirahat. Setelah pekerjaan rumah selesai, saya lekas-lekas berbaring. Punggung dan perut bawah masih terasa pegal. Akhirnya saya pakai membaca-baca saja sambil istirahat. Hari minggu, hari ketiga setelah inseminasi, saya harus pergi ke Tuban karena ada bulik saya (adiknya almarhum papa) meninggal dunia. Akhirnya saya berangkat pagi-pagi bertiga dengan suami dan mama. Sorenya ketika pulang kembali ke Surabaya, rasanya capek sekali. Akhirnya saya putuskan untuk beristirahat.

Hari senin, hari ke-4 setelah inseminasi, badan saya terasa sangat lelah. Saya ingin sekali memanggil ibu-ibu tukang pijat langganan saya. Tetapi saya takut, takut kalau pijatan akan mempengaruhi calon janin yang ada di perut. Padahal belum apa-apa dan belum tentu hamil juga, lagi-lagi saya overthinking sendiri. Akhirnya karena nggak kuat, saya memanggil tukang pijat langganan. Setelah pijat badan saya terasa mendingan, dan rasa nyeri di punggung dan perut bawah sudah tidak lagi terasa. Hari-hari setelahnya, saya banyak di rumah saja.

Pada hari kamis, seminggu setelah inseminasi saya memutuskan untuk nge-mall karena sudah bosan di rumah. Saya pergi makan dan nonton sendirian. Saya memang sesekali menikmati waktu sambil jalan-jalan sendirian. Rasanya lebih enak daripada kalau nongkrong bersama teman-teman atau nge-date sama suami. Soalnya kalau self-date itu rasanya lebih bebas, kita bisa bebas pergi kemana, nonton apa dan makan apa, nggak ada yang ngelarang-larang atau kompromi selera.
Hari-hari berikutnya badan saya udah kaku karena kebanyakan istirahat. Kepingin rasanya olahraga supaya badan lebih segar, tetapi takut berpengaruh pada calon janin di perut. Akhirnya karena nggak tahan diam-diam di kamar, saya memutuskan untuk senam-senam ringan seperti yoga dan low impact aerobic  dengan video di Youtube. Tapi dasar terlalu takut, saya nggak berani bergerak berlebihan. Misalnya sewaktu saya mengambil pose cobra ketika yoga, saya tidak berani menekuk badan sampai tinggi, jadi hanya sampai baby cobra saja, demikian juga dengan gerakan lain. Semua gerakan senam saya lakukan dengan hati-hati, kelewat hati-hati malah. Rasanya kayak diri sendiri ini menjadi barang pecah belah, kalau nggak hati-hati dalam bergerak bakalan pecah berkeping-keping. Rasanya merana banget.

Tiba hari ke-13 setelah inseminasi, belum ada tanda-tanda akan menstruasi. Saya dan suami sudah ge-er bahwa program inseminasi kami berhasil. Namun saya berusaha utnuk nggak ge-er terus menerus, karena masih ada satu hari lagi untuk menentukan, menstruasi atau nggak.
Pada hari ke-14, perut bagian bawah mulai sakit. Rasanya benar-benar nervous dan cemas. jangan-jangan ini mau menstruasi?? Kemudian sorenya, ada bercah warna merah muda di celana dalam. Saya udah deg-degan banget. Saya cerita ke suami kalauu ada bercak merah muda transparan di celana dalam. Suami bilang, mungkin itu flek tanda kehamilan. Saya segera browsing untuk mencari tahu. Memang ada tanda-tanda kehamilan berupa flek coklat muda, yang tandanya zygot telah menempel di dinding rahim sehingga ada bagian dari dinding rahim yang meluruh keluar, yang akhirnya menjadi flek. Namun darah implantasi ini hanya keluar sedikit saja, kalau keluarnya banyak dan berwarna merah gelap, itu artinya memang menstruasi. Agak sulit dibedakan pada masa awal karena timing keluarnya darah implantasi dan menstruasi ini mirip. Akhirnya saya berusaha tenang sambil menunggu perkembangan. Selain itu, pada malam hari ke-14 itu, keadaan vagina lebih lembab dari hari-hari kemarin. Obat penguat kandungan yang saya masukkan, meluncur kembali keluar ketika tengah malam saya terbangun untuk buang air kecil. saya mulai khawatir tapi berusaha tetap tenang.

Kemudian pada hari sabtu pagi, saya terbangun jam 3. Suami pada saat itu sudah bangun karena Arsenal, klub sepakbola kesayangannya sedang tanding di televisi. Saya merasa tidak enak di perut bagian bawah sekaligus terasa ingin buang air kecil. Lekas saya bangkit dan buru-buru ke kamar mandi. Dan di celana dalam saya menemukan bercak darah berwarna merah segar, bukan lagi warna merah muda transparan seperti sebelumnya. Jelas itu darah menstruasi. Saya pun dengan lemas kembali ke kamar dan ngomong ke suami bahwa saya benar menstruasi.
Rasanya sedih dan lemas. Segala rasa tegang yang kemarin ada, luruh keluar, berganti dengan rasa sesal. Apa karena saya terlalu khawatir dan baper akhirnya malah nggak jadi. Mestinya saya bisa lebih rileks lagi dalam menghadapi situasi ini, dan mungkin itu akan lebih mendujung berhasilnya program inseminasi kami.

Saya menangis pagi itu. Nggak keras-keras sampai mata bengkak sih, tapi lumayan pilu juga. Suami, di luar dugaan bersikap tenang, nggak ngomel-ngomel kayak biasanya kalau lagi geregetan. Dia matikan televisi dan memeluk saya di tempat tidur. Kami diam saja sampai tangis saya berhenti.
Setelah beberapa hari suami nggak membahas apa-apa soal gagalnya inseminasi buatan yang kami jalani. Mungkin dia ingin memberi saya waktu untuk menenangkan diri. Saya pun berusaha rileks apapun gejolak perasaan saya waktu itu. Saya meditasi dan yoga, juga banyak berdoa selepas shalat. Saya nggak ingin menyesali apa yang sudah terjadi.

Beberapa hari sebelum kejadian menstruasi di pagi buta itu, seorang teman saya mengalami musibah. Dia baru saja melahirkan dengan operasi caesar. Namun ternyata Allah berkehendak lain, bayi yang dilahirkan terjerat tali pusar dua lilitan sehingga meninggal dunia. Yang lebih menyedihkan, teman saya ini sebelumnya sudah pernah kehilangan anak pertamanya yang masih berusia beberapa minggu akibat kelainan pada usus. Dan setelah melahirkan yang ketiga kalinya, dia kehilangan anak lagi. Bayangkan saja, dua kali kehilangan anak yang masih bayi banget...., Pasti sangat memilukan bagi teman saya itu. Sewaktu saya dan suami membesuknya, ia terlihat tegar dan ceria. Mungkin keceriaannya adalah hasil ditegar-tegarkan, saya tidak tahu. Tapi saya berharap ia baik-baik saja.
Ketika program inseminasi saya gagal, saya teringat oleh musibah yang teman saya alami. Dalam hati, saya merasa rasa sedih yang saya alami belumlah apa-apa dibandingkan dengan kepiluan hati teman saya. Karenanya saya harus tetap kuat dan tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Untunglah suami ternyata bisa menerima hasil yang ada dan berkata bahwa lebih baik sudah mencoba daripada nggak melakukan apa-apa.

Mungkin ini isyarat dari Allah, kami memang lebih baik berdua dulu, banyak-banyak pacaran. Karena sebelum menikah kami nggak pacaran, sewaktu nembak suami waktu itu langsung mengajak nikah dan saya menerima ajakannya. Ya sudah, mungkin kami harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama, membangun kehidupan yang baik, supaya nanti ketika Allah memberi amanahNya, kami sudah lebih siap.

Akhirnya kami kembali seperti biasa, santai-santai, nggak ke dokter, nggak minum suplemen apa-apa, ya sewajarnya saja seperti sebelumnya. Barangkali saja kalau kami bisa lebih santai dan bahagia, akan ada si kecil yang diamanahakan oleh Tuhan kepada kami....

Comments

Popular posts from this blog

10 Hal Serunya Jadi Cewek Tomboy

Hai readers, tahukah kamu kalau nggak semua cewek itu sama? Yup, cewek selalu identik dengan dandanan yang feminim, unyu dan imut, sikap yang malu-malu, kemayu, centil dan sebagainya. Apalagi trend girlband lagi nge-hits banget sekarang ini dengan gaya cewek-ceweknya yang unyu dan manis, sudah pasti orang-orang, terutama kaum cowok, akan menilai cewek dengan standar tersebut. Tetapi buat kamu cewek-cewek yang nggak punya style unyu dan manis a la cewek-cewek girlband, nggak usah keburu sedih dulu girls. Jadi cewek tomboy juga nggak ada ruginya kok, malah banyak keuntungannya. Coba deh simak tulisan di bawah ini.
1.Lebih bebas Banyak cowok bilang, cewek itu ribet banget. Butuh banyak waktu buat dandan, matching in warna baju dengan make-up, mesti jaga penampilan dan kebersihan, dan sebagainya. Hal-hal kecil yang nggak jadi soal buat cowok merupakan persoalan besar buat cewek. Tapi itu nggak jadi masalah buat cewek tomboy, karena umumnya cewek tomboy nggak terlalu peduli bahkan cuek abi…

Buat Kamu yang Gemar Berlomba, Tips Memenangkan Kompetisi atau Sayembara

Hidup jangan habis hanya untuk dipakai kerja, belajar, main, bergaul dan sebagainya yang udah kelewat biasa-biasa aja. Sesekali menguji kemampuan diri melalui ajang kompetisi atau sayembara nggak ada salahnya kan. Ada banyak ajang kompetisi yang dibuat untuk berbagai bidang. Sebutlah film, karya tulis, desain produk, arsitektur, penataan kota, musik, dan macam-macam lagi yang bisa kamu ikuti sesuai bidang dan keahlian yang kamu miliki. Selain menambah pengalaman, ajang kompetisi juga bisa menambah portofolio karyamu lho. Apalagi kalau kamu berhasil memenangkannya, selain dapat hadiah, prestasi ini akan menjadi momen berharga dalam hidupmu. Siapa sih yang nggak bangga kalau jadi juara kompetisi tingkat nasional, atau bahkan, tingkat internasional?

Walau Bukan Tempat Wisata Sungguhan, 5 Pecinan Ini Layak Kamu Kunjungi

Pecinan, atau chinatown, adalah permukiman yang dihuni oleh etnis Tionghoa, di manapun mereka berada. Menurut sejarah, masyarakat Tionghoa adalah komunitas diaspora yang luar biasa. Mengapa begitu? Karena mereka berani meninggalkan tanah kelahiran di dataran Tiongkok demi menemukan hidup baru ke seluruh penjuru dunia dengan jalan berdagang. Makanya jangan heran, sebab kamu bakal menemukan pecinan di kota-kota, baik Indonesia maupun di negara lainnya, bahkan Eropa hingga Amerika. Ada sesuatu yang khas yang bisa kamu dapati jika kamu berkunjung ke Pecinan, yakni arsitektur dan suasana kehidupannya yang unik. Di Indonesia ada banyak pecinan. Nah, pecinan mana saja yang layak kamu kunjungi? Simak artikel berikut ini.
1.Pecinan Semarang Di pecinan Semarang ini, kamu bisa menemukan 11 klenteng, di antaranya Klenteng Sam Poo Kong yang terkenal itu. Sam Poo Kong sudah datang ke pesisir Semarang pada abad ke 15 dan kemudian mendirikan klenteng sebagai pusat kosmos perkampungan yang terbentuk k…